Activision 'Maruk'? Sudah Laba Besar, Kini PHK Massal!

Rendy Lim
15/02/2019 14:07 WIB
Activision 'Maruk'? Sudah Laba Besar, Kini PHK Massal!
Activision Blizzard

Activision Blizzard baru saja mencetak rekor terbaru pendapatan tertinggi sepanjang sejarah di tahun 2018. Namun ironisnya, kesuksesan ini malah diwarnai dengan PHK massal yang menimpa 800 karyawan mereka. 

Berita yang diterbitkan oleh Vice ini mengungkapkan sisi buruk dan bahaya kapitalisme dalam industri game di mana perusahaan hanya mementingkan profit ketimbang nasib dan kesejahteraan pegawai yang telah membantunya capai kesuksesan tersebut. 

TGIF PUBG Mobile

Activision Blizzard adalah perusahaan gim yang memiliki sekitar 9.000 karyawan dan merupakan perusahaan dibalik titel populer Call of Duty. Rilisnya Call of Duty Black Ops tahun ini sepertinya menjadi puncak kesuksesan Activision Blizzard dengan memecahkan rekor profit dan mendapatkan pemasukan hingga 2,4 milyar USD, atau sekitar 33,8 trilyun rupiah tahun lalu. 

Sayangnya, prestasi ini dipandang mengecewakan oleh pihak direksi hingga perusahaan ambil keputusan untuk memberhentikan 800 karyawan mereka. Lebih parah lagi, Activision Blizzard membayar bonus perekrutan sebesar 211 milyar dan gaji 12 milyar per tahun kepada eksekutif yang baru bergabung ke perusahaan ini bulan lalu. Namun di saat bersamaan, mereka mendepak 800 karyawan yang gajinya tentu berbanding jauh dengan para eksekutif tersebut. 

Tanggapan kasar pun tidak sedikit didapatkan oleh Activision Blizzard perihal keputusan mereka memecat 800 karyawannya, apalagi setelah melihat neraca keuangan perusahaan ini pada tahun 2018. Deviden yang naik 9% namun jumlah karyawan berkurang 8%, tentunya selisih tersebut akan lebih memberikan uang kepada perusahaan, terutama para pemegang saham. 

CEO Activision Blizzard Bobby Kotickorang yang mendapatkan julukan Moneyball ini bahkan dengan gampangnya memberikan pendapatnya dan mengatakan "Meski pendapatan perusahaan pada 2018 merupakan yang terbaik sepanjang sejarah, kami masih belum mencapai potensi maksimal dalam pengembangan usaha."

Waduh memang sih tujuan dari sebuah perusahaan pastinya adalah untuk mendapatkan profit, namun keputusan untuk memecat 8% dari total keseluruhan karyawan setelah mencetak rekor profit mungkin sesuatu yang cukup kejam dilakukan. Bagaimana pendapat kamu sobat esports?