Esports.ID

Aksi Curang Forsaken 'Coreng' Citra Industri Esports Global

Rendy Lim
31/10/2018 16:04 WIB
Aksi Curang Forsaken 'Coreng' Citra Industri Esports Global
Nikhil ‘forsaken’ Kumawat

Sudah lebih dari sepekan sejak terungkapnya Nikhil ‘forsaken’ Kumawat, salah satu pemain dari tim OpTic Gaming India, yang ketahuan menggunakan cheat saat mengikuti turnamen CS:GO di eXTREMESLAND Asia Finals. Akibat kelakuannya tersebut, dirinya telah diganjar hukuman 5 tahun tidak boleh mengikuti turnamen kompetitif. Tidak berhenti di sana, dampak aksi kecurangannya juga membuat OpTic Gaming membubarkan seluruh roster CS:GO-nya. 

Lebih parah lagi, karena kini tidak hanya mencoreng scene kompetitif CS:GO namun juga merusak citra keseluruhan industri eSports secara tidak langsung. Bagaimana bisa? Isu integritas adalah yang utama. 

Integritas merupakan kunci dalam semua jenis olahraga, baik tradisional ataupun eSports. Adanya integritas memberikan jaminan bahwa pertandingan yang terjadi adalah asli adanya dan bukan merupakan skenario yang 'ditulis' oleh suatu pihak. Tanpa jaminan atas unsur sportmanship ini, tentu kompetisi eSports tidak bisa sebesar sekarang ini. 

Aimbot di CS:GO itu ibarat cork di baseball bat, yang mana sama-sama memberikan keuntungan bagi pemainnya dan dilarang penggunaannya saat turnamen. Namun elemen digital yang menempel pada sisi eSports membuat perang terhadap cheat tampak cukup sulit untuk dimenangkan. Kita bisa mengaca pada kasus forsaken, meskipun developer sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat anti-cheat code, cheating tetap menghantui dan mengancam industri eSports. 

Apa yang dilakukan oleh Forsaken adalah ibarat penduduk atau warga yang merusak kotanya sendiri. Jerih payah yang dibangun bersama oleh komunitas CS:GO dengan menunjukkan fair competitive play telah dirusak sendiri oleh anggota komunitas tersebut. Dampak terbesarnya mungkin berpengaruh pada peluang masuknya investor ke scene eSports, terutama bagi perusahaan endemic yang tidak mempunyai pengetahuan eSports. 

Kejadian cheating ini tentu membuat integritas scene eSports dipertanyakan. Pada awalnya, brand-brand endemic yang tertarik dengan peluang investasi di eSports jadi ambil langkah mundur untuk mempertanyakan kembali apakah pantas bagi mereka dalam berkecimpung di scene eSports.

Membangun kembali kepercayaan ini bukanlah pekerjaan rumah yang hanya dilakukan oleh satu orang saja. Semua orang yang berada dalam scene ini, mulai dari player, developer, organisasi eSports, penyelenggara turnamen, dan lainnya, harus saling bahu-membahu untuk memperbaiki citra serta image industri eSports. 

Meskipun dunia eSports memberikan jaminan yang sangat menarik bagi para playernya, seperti gaji tetap, hadiah turnamen yang besar, sponsorship, serta kesempatan untuk menjadi bintang adalah motivasi besar untuk mereka menghindari penggunaan cheat. Tetapi tidak ada jaminan sepenuhnya kalau Forsaken akan menjadi kasus cheat yang terakhir terjadi di scene eSports. 

Terakhir, sebagaimanapun ketatnya peraturan dan anti-cheat code yang dipasang untuk memantau para player dalam suatu turnamen, hal paling ampuh untuk memberantas cheat adalah kesadaran dari para player itu sendiri. Setuju sobat eSports?