Esports.ID

Ambisi FIFA Tembus Trinitas Gim Esports Populer di Dunia

Billy
10/01/2019 10:16 WIB
Ambisi FIFA Tembus Trinitas Gim Esports Populer di Dunia
gamerant

Sudah tidak perlu ditanya lagi soal kepopuleran olahraga sepakbola di mata dunia, tapi apakah gim yang mewakili cabang paling favorit sedunia ini bisa menandingi deretan 'tiga besar' gim esports pada dekade ini? Begini kira-kira jawaban sang publisher gim FIFA, EA Sports.

Sepakbola adalah olahraga terbesar dunia dengan jangkauan hingga 260 juta pemain seluruh penjuru dunia. Sehingga EA Sports pun optimis akan FIFA 19 sebagai sebuah permainan digital mampu menembus trinitas game esports populer dewasa ini, yakni DOTA 2, League of Legends., dan League of Legends. Apalagi melihat perkembangan positif yang tergambar di sejumlah turnamen maupun kompetisi gim FIFA belakangan ini yang terus bergaung tinggi.

"Tahun lalu, kami mencatat tiga kali lipat peningkatan jumlah viewer," ungkap Todd Sitrin, Senior VP & General Manager of Gaming Division di EA Sports, via Gamesindustry.biz. "Semua orang mengetahui bahwa ada tiga gim esports paling digemari sekarang, yakni DOTA 2, League of Legends, dan Counter-Strike: Global Offensive. Kami belum mampu menyaingi ketiganya, tapi viewer kami sudah sejajar dengan Overwatch League."

Ajang FIFA eWorlds Cup Final di London tahun lalu ditonton sebanyak 29 juta viewer via kanal online selama tiga hari. FIFA eWorlds Cup disiarkan lewat YouTube, Facebook, dan Twitch, serta dua kanal televisi, BT Sports dan Sky Sports.

"Semua orang tahu peraturan gamenya. Jutaan orang tahu tim yang sedang bermain. Mereka pun bisa tahu rasanya bermain seperti itu dan punya ikatan emosional kepada sang pemain. Semua itu menjadikannya mudah untuk dimengerti," tambahnya lagi, menegaskan rasa optimis dirinya terhadap masa depan FIFA nantinya.

Meski begitu, jumlah total penonton FIFA belum mencapai rekor mengesankan yang ditorehkan League of Legends yang ditonton sampai 100 juta orang. Torehan yang bahkan sudah menyamai rekor penonton event olahraga populer, Super Bowl. Lalu, jumlah hadiah yang digelontorkan pun belum sebesar turnamen akbar DOTA 2, The International yang tahun lalu mencapai 24 juta dolar USD.

Tapi, satu keunggulan dari FIFA yang digaung-gaungkan adalah jumlah player yang besar. Tahun lalu, ada 20 juta orang berpartisipasi dalam mode Champions sebagai awal rangkaian kualifikasi. "Kadang kita memiliki jutaan pemain bertanding dalam seminggu," ungkap Todd. EA melihat berkat adanya turnamen maka rasa lapar untuk bersaing yang dimiliki para pemain bisa terpenuhi sekaligus menjangkau pemain baru dan memanjakan pemain yang ada.

FIFA tak cuma mengayomi para profesional saja, karena bersama staff yang berjumlah sekitar 300-400 orang saat ini, EA Sports berkomitmen membangun ekosistem yang baik lewat variasi proyek esports mulai dari teknologi sampai liga kecil-kecilan. "Kami ingin semua orang tak peduli level kemampuan mereka, bisa ikut bersaing," cetus Todd. FIFA akan membuat in-game mode berjenjang agar semua pemain mulai dari komunitas lokal, semi-pro di mana sponsor mulai bertaruh untuk sesuatu yang lebih besar namun tidak sebesar FIFA Ultimate Champions Cup di mana para elite bertanding seperti yang dilakukan pada November lalu di Bucharest.

Sebuah langkah penuh ambisi dari EA Sports, apakah menurutmu FIFA bakal menjadi gim esports favorit melebihi DOTA 2, CS:GO, maupun LOL?