IESF

Usai Dapatkan 24 Top Player, Babak Utama IGL FIFA 19 FUT Dimulai!

basittt
04/05/2019 08:43 WIB
Usai Dapatkan 24 Top Player, Babak Utama IGL FIFA 19 FUT Dimulai!
IGL FIFA 19 FUT

Indonesia Gaming League (IGL) Online Qualifier FIFA 19 FUT pekan ke delapan resmi berakhir pada Minggu (28/4) lalu. Hal ini menandakan, proses pencarian 24 top player yang akan bermain di Big League telah berakhir.

Pada pekan terakhir Online Qualifier, tercatat lebih dari 400 player yang berpartisipasi dalam memperebutkan tiga slot tersisa yang disiapkan oleh IGL selaku penyelenggara turnamen. Meski animo dan antusiasme player terbilang tinggi, namun IGL memastikan tak akan ada slot yang dilebihkan untuk player yang ingin berpartisipasi. Pada pekan ke delapan kemarin, Immanuel Mangasi Fernando (Jakarta), Andersen Tjoeng (Jakarta) dan Andri Luhut (Jakarta) merupakan top three player terakhir yang berhasil masuk ke Big League.

Berdasarkan laporan yang diinformasikan IGL, total peserta yang sudah mendaftarkan diri selama periode Online Qualifier mencapai lebih dari 1.500 peserta. Angka ini memang berada di bawah ekspektasi awal yakni 2.000 peserta. Meski begitu, Stephen Clinton selaku Wakil Ketua IGL mengaku puas dengan apa yang sudah dicapai IGL.

"Secara keseluruhan kami cukup puas dengan banyaknya pendaftar yang mengikuti event perdana ini. Setelah ini, kami akan adakan evaluasi kecil guna menjadi lebih baik lagi kedepannya," ujar Clinton.

Adapun 24 player yang telah memastikan diri lolos ke babak Liga adalah:

  1. Andika Putra Sanjaya (Makassar)
  2. Egi Ilyas Fauzi (Sukabumi)
  3. Pugu Mujahit Mantang (Jakarta)
  4. Arlan Paranti (Sukabumi)
  5. Abdul Rozak R (Jakarta)
  6. Dedy Tami H (Bogor)
  7. Aditra Gusnar (Denpasar)
  8. Ghea Ananta A (Samarinda)
  9. Nyoman Tri Laksana P (Bali)
  10. Rudi Julio (Surabaya)
  11. Ardy Diptayana (Tangerang)
  12. Apri Hantoro (Sleman)
  13. Muhammad Ikhsan (Jakarta)
  14. Mohammad Ega (Jakarta)
  15. Rakel Ramadhan (Sukabumi)
  16. Windy Hendro (Pontianak)
  17. Kenny Prasetyo (Jakarta)
  18. Yoga Harahap (Medan)
  19. Rama Anggara (Madiun)
  20. Brian Hadianto (Jakarta)
  21. Kevin Naufal (Depok)
  22. Immanuel Mangasi Fernando (Jakarta)
  23. Andersen Tjoeng (Jakarta)
  24. Andri Luhut (Jakarta)

Nantinya, 24 player yang telah memastikan diri di Big League akan menempati dua grup liga yakni Big East dan Big West. Masing-masing liga terdiri dari 12 player. Terkait sistem poin, IGL akan mengikuti format liga pada umumnya. Kemenangan akan diganjar dengan 3 poin, seri 1 poin dan mereka yang kalah tak mendapatkan poin. Selama fase ini, setiap player yang mengantungi kemenangan juga akan mendapat bonus uang tunai sebesar Rp350 ribu per pertandingan yang berhasil dimenangkan. Kedua Big League tersebut nantinya akan digelar pada 11 Mei 2019 selama 11 pekan dan dapat disaksikan melalui live stream di YouTube Indonesia Gaming League.

Sebagai informasi, setelah fase Big League, kompetisi berlanjut ke fase 16 besar. Delapan player terbaik dari masing-masing liga akan kembali bertarung dengan sistem home-away. Jika hasil tetap berakhir imbang di dua laga tersebut, maka kedua tim akan adu keberuntungan di babak adu penalti sampai mendapatkan kemenangan.

Setelah babak 16 besar, kompetisi akan bergulir ke fase perempat final atau delapan besar. Semua player yang gugur di fase 16 besar akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp2,5 juta. Pada babak delapan besar, sistem yang digunakan kurang lebih sama seperti babak sebelumnya. Seluruh peserta yang gugur di perempat final nantinya akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp5 juta sebagai bentuk apresiasi.

Masuk ke fase semifinal, empat player akan saling bertarung. Mereka yang kalah di babak semifinal akan memperebutkan tempat sebagai juara ketiga IGL. Juara keempat nantinya akan mendapatkan uang sebesar Rp5 juta, juara ketiga akan membawa pulang Rp10 juta. Sedangkan runner up akan mendapat hadiah sebesar Rp25 juta dan juara turnamen akan mendapatkan hadiah uang tunai Rp50 juta.

Lanjut ke halamannya berikutnya yuk!

LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA IGL

Menurut penuturan Frans Silalahi selaku Ketua dari IGL, gagasan terbentuknya kompetisi ini berangkat dari orang-orang yang memang suka dengan gim FIFA. Minimnya perhatian para penyelenggara event terhadap pengadaan event untuk komunitas FIFA, juga jadi faktor pendukung IGL dengan penuh percaya diri menjalankan liga FUT terbesar yang meskipun tanpa dukungan dari sponsor.

"Latar belakang dibentuknya IGL ini, pastinya karena kita melihat industri esports sangat maju ya, terutama di tiga tahun belakangan ini. Tetapi, tidak pernah ada yang melirik ke arah konsol, terutama PlayStation 4 (PS4). Terus kita kerucutkan lagi, kenapa yang dipilih gim FIFA karena community-nya itu lumayan besar di Indonesia. Di Facebook saja, FIFA untuk FUT saja sudah ada anggotanya 30.000 orang. Mereka itu orang-orang yang benar-benar loyal untuk FUT, kenapa FUT karena sebenarnya turnamen di luar sana memang basisnya FUT bukan kick-off, yang berarti FIFA Ultimate Team. Which is, ketika kita ingin membangun satu squad yang bagus, kita memang harus mengeluarkan uang real untuk membeli tim dan lain sebagainya. Meskipun begitu, memang skill tetap nomor 1." ungkap Frans Silalahi selaku Ketua IGL.

"Hal lain, alasan digelarnya turnamen FUT ini karena banyaknya keluhan komunitas mengenai tidak adanya kompetisi besar untuk FIFA di Indonesia. Sedangkan di luar negeri sana itu sangat banyak sekali turnamen berbasis FUT, terlihat dari cukup banyaknya pemain Indonesia yang berangkat untuk tanding di turnamen Major, baik di FACEIT London, The Cologne, dan juga Malaysia. Karena kurangnya perhatian dan para pendiri IGL ini juga suka dengan FIFA, maka dibuatlah kompetisi ini." Frans menambahkan.

Menanggapi masalah jalur khusus untuk turnamen kelas internasional, Frans dan tim IGL pastinya mengusahakan untuk berikan yang terbaik. "Tentu IGL akan support teman-teman untuk berangkat turnamen dengan skala internasional ya. Contohnya saja seminggu lalu IGL mengadakan Indonesia Qualifier untuk ES Football untuk diterbangkan ke Malaysia dan pemenang selanjutnya akan diterbangkan ke Madrid. Selain itu, kami juga sedang menanyakan pihak ESWC apakah akan melaksanakan FIFA lagi khususnya FUT di tahun 2019. Jika memang ada kami akan meminta 1 slot atau 2 dari Indonesia untuk terbang ke Prancis yang biasanya berlangsung di bulan November," pungkasnya.

KOMENTAR EGA 'EGGSY' RAHMADITYA, PRO PLAYER FIFA TERMASYHUR

Punggawa Rex Regum Qeon (RRQ) untuk divisi FIFA Ega 'Eggsy' Rahmaditya merasa senang dengan adanya IGL ini. "Tentu saya senang sekali ya dengan adanya IGL ini, bisa jadi gerbang pembuka untuk scene esports FIFA khususnya di Indonesia. Sebenarnya di Indonesia sudah lumayan banyak ya turnamen FIFA, akan tetapi belum pernah ada yang sampai sebesar ini dengan skala nasional dan formatnya liga."

"Kalau untuk jalur khusus menuju kompetisi internasional memang belum ada sih, rata-rata masih lewat Qualifier Asia. Harapan saya agar dari komunitas juga harus lebih aktif lagi sih dan terus berjuang agar banyak yang lolos ke live event supaya Asia, terutama Indonesia bisa dilirik oleh EA ke depannya." tambah Ega 'Eggsy' Rahmaditya.

Fenomena viewership yang jadi patokan para penyelenggara event untuk gelar berbagai kompetisi, memang jadi momok minimnya kompetisi FIFA di tanah air. Jika disandingkan dengan gim mobile yang sedang marak, tentu akan sangat jauh angka yang dihasilkan saat kompetisi serupa digelar. Semoga dengan kemunculan IGL yang berani unjuk gigi tanpa sponsor ini, bisa mengangkat komunitas-komunitas minor yang berpotensi di Indonesia untuk jadi lebih besar.

Kabar lain, Frans Silalahi juga sempat bocorkan akan gelar kompetisi Pro Evolution Soccer nantinya. Penasaran kan? Nantikan terus infonya hanya di Esports.ID yah!