Esports.ID

Awal Penuh Talenta, Star8 Undur Diri Tanpa Kompetisi

Meneketehe
03/10/2019 10:47 WIB
Awal Penuh Talenta, Star8 Undur Diri Tanpa Kompetisi
Tim 'Penyalur' Bintang ML Asal Daerah yang Terus Terkikis..

Dalam ranah kompetisi digital sekalipun, hukum alam tetap berkuasa! Sama halnya dengan iklim 'kejam' esports di Indonesia, di mana tim mapan (notabene asal ibukota) seakan punya 'hak' (baca: keuntungan materi dan pengaruh) untuk menggembosi tim-tim daerah yang baru mencuat dengan potensi pemain hebatnya..

Yah..sekedar uneg-uneg tak berarti, tapi nyata bagi perwakilan tim Mobile Legends dari kota Manado yang tampil beringas di Piala Presiden Esports 2019, namun terkikis pelan dan kini lenyap di peredaran kompetisi. Dalam postingannya via Instagram (2/10), Star8 secara resmi menon-aktifkan divisi Mobile Legends, termasuk melepas dua pemain yang tersisa yakni Raze dan Altamiz.

Awal kemunculannya, anak-anak muda kawanua ini mampu mengejutkan sejumlah tim papan atas di MPL Season 3. Lalu, Star8 Esports juga tampil perkasa di penyisihan regional Manado dan berhak mengisi slot 16 tim terbaik babak utama Piala Presiden Esports 2019, akhir Maret lalu.

Merunut satu demi satu pemain dari skuad awalnya, Star8 Esports dihuni oleh deretan pemain Mobile Legends berstatus Top Global pada masanya. XIN, Tezet, VAL, CUPU?, dan Paul masing-masing merupakan penguasa leaderboard dari hero jagoan mereka, misalnya XIN yang piawai mainkan Helcurt, Tezet sebagai nomer satu Aldous, VAL sang pengendali Kaja, CUPU identik dengan Lunox, serta Paul adalah pemain Grock nomer wahid.

Nasib mereka kini? Tanpa kompetisi profesional resmi yang bisa diikuti oleh Star8, satu per satu pemain bertalenta tersebut minggat atau 'ditampung' oleh tim-tim elit peserta Mobile Legends: Bang Bang Professional League (MPL) Season 4 yang berkonsep franchise league (jatah pesertanya tetap, dan harus mengalokasikan dana). XIN sekarang bersanding dengan skuad Lemon Cs. di RRQ, lalu trio andalan mereka dicomot oleh Geek Fam Indonesia.

Sedikit bernostalgia ke awal pembentukan tim Star8, dari berbagai sumber, mereka adalah empat sekawan yang berkumpul di bawah naungan tim Celcius. Sehingga berbeda dengan skuad tim elit ML yang lazimnya satukan pemain-pemain dari latar tim berbeda. Empat sekawan ini pun menemukan bakat CUPU? melalui sesi trial, dan selanjutnya terus menggunakan jasanya arungi berbagai kompetisi ML di tanah air.

Skuad bermaterikan pemain-pemain muda asal kota Manado ini mengusung ambisi, plus beban, yang sama yakni ingin membanggakan orang-orang terdekat mereka, termasuk keluarga di daerah asalnya. Termasuk impian mereka untuk bisa mengalahkan Onic Esports, yang menurut mereka (via Kincir), tim ini berisikan 'bocah-bocah ajaib' yang tampil tanpa beban sementara mereka bermain untuk melepas 'beban'-nya masing-masing. Sekarang mereka terpisah, apakah hasrat dan mimpi jadi kebanggaan daerah masih terngiang deras di hati mereka?

Bukan menuding atau menyalahkan tim manapun yang menampung mantan pemain Star8 sebagai penguat formasi timnya, memang nyatanya jadi dampak industri esports global di mana semua tim berlomba membentuk skuad terbaik dengan pemain-pemain idaman. Namun, alangkah bijaknya pula bila pemain-pemain ML atau skuad pro 'tanpa kompetisi' lainnya bisa disalurkan pada wadah baru, sehingga tak menutup keran kemunculan tim potensi muda asal daerah layaknya Star8 dulu..