Sesuaikan Karakteristikmu, Tiru Pola Latihan Player Pro Berikut Ini

Billy
17/01/2018 14:59 WIB
Sesuaikan Karakteristikmu, Tiru Pola Latihan Player Pro Berikut Ini
Esports Observer

Menjadi profesional, dalam bidang apapun, menuntut dedikasi dan komitmen tinggi. Begitu pun menjadi gamer profesional, karena kehidupan seorang gamer tidak hanya berkutat main game tiap hari, namun bagaimana menjaga level performa tertinggi untuk waktu yang panjang. Berkaitan dengan itu, kamu harus siap menguras fisik dan melatih aspek mental yang sangat berpengaruh dalam permainan seseorang.

Sebagai contoh, pemain League of Legends paling tersohor, Lee 'Faker' Sang-hyeok menghabiskan hingga 12-15 jam sehari untuk berlatih. Beberapa pemain Korea yang bermain untuk tim lain juga rata-rata menghabiskan durasi sama. Namun, tidak semua pro memiliki metode sama dalam berlatih, misalnya pemain CS:GO dari tim SK Gaming, Gabriel 'FalleN' Toledo, yang ternyata memakai waktu lebih sedikit.

Alexander Mullër, selaku managing director dari SK Gaming, menyatakan bahwa intensitas latihan FalleN tidak seberat bayangan orang-orang. Mindset latihan FalleN fokus pada 'mencapai permainan terbaiknya ketika berlatih, lalu bagaimana mengembangkan permainannya dari situ, dan menemukan langkah-langkah apa yang diperlukan untuk kembali mencapai puncak performanya'. Dengan begitu, dia menggunakan waktunya lebih efektif dan menghemat tenaga lebih banyak daripada melakukan marathon latihan berjam-jam.

Guna memahami pola latihan terbaik yang sesuai dengan karakteristik tiap orang, beberapa pro player berikut akan berbagi pengalaman dan sistem latihan rutinnya bagi atlet-atlet eSports yang kesulitan membagi waktu terbaik antara berlatih dan bermain.

1. Tristan 'PowerofEvil' Schrage (OpTic Gaming): League of Legends

Dalam masa baktinya di Misfits, Tristan mampu capai perempatfinal LOL World Championship yang lalu. Pemain berkebangsaan Jerman ini menceritakan rutinitas latihan yang berbeda di tiap tim yang dibelanya. Sekarang, dalam rutinitasnya, dia diharuskan berlatih tanding selama tiga jam lalu diselingi tiga jam istirahat kemudian kembali berlatih selama tiga jam. Saat istirahat akan diselipkan dengan evaluasi hasil latihan dan segala macam koreksi yang masih berhubungan dengan porsi latihan, jadi tidak sepenuhnya beristirahat.

Tristan lebih menyukai porsi latihan di tahun sebelumnya ketika dia akan berlatih selama sejam lalu beristirahat total untuk satu jam berikutnya. Sementara evaluasi dan rapat tim akan dilakukan malam hari. Menurutnya, terlalu lama berlatih akan mengurangi fokus yang diperlukan untuk bisa tampil 100%.

Biasanya, sebelum latih tanding, Tristan akan bangun lebih pagi untuk memulai bermain solo. Namun kuantitas permainan belum tentu sebanding dengan kualitas latihan yang didapatkan. Bisa saja seseorang bermain 20 game namun secara bertahap akan menurunkan fokus dan kualitas kemampuannya sampai 50%.

Tapi tidak menutup kemungkinan beberapa pro player mampu menguasai teknik berlatih berdurasi panjang seperti Faker yang mampu bermain sampai 15 jam berturut-turut demi meningkatkan kemampuannya.

2. Khoo 'Ohaiyo' Chong Xin

Ohaiyo adalah salah satu pemain DOTA 2 legendaris dengan reputasi membanggakan di seluruh dunia. Itu diraih dengan kerja keras dan latihan yang rutin. Pemain asal Malaysia ini menceritakan pentingnya disiplin dan hidup teratur sebagai seorang atlet profesional.

Dulu, Ohaiyo tidak memiliki jadwal tertentu, hanya bangun lalu bermain DOTA 2 sampai tengah malam diselingi cemilan makanan cepat saji. Kini, dia selalu bangun sekitar jam 10 pagi dan mengkonsumsi makanan sehat agar tubuh tetap segar dan sehat sehingga memberi dampak positif saat berlatih.

Biasanya, ketika berlatih dengan tim Fnatic, jadwal latihannya hanya berdurasi delapan jam atau enam kali latih tanding. Demi mencapai performa terbaiknya, Ohaiyo butuh sedikit pemanasan di game pertama dan baru bisa mengeluarkan permainan terbaiknya di game kedua, sampai game keenam, atau ketujuh.

Pemanasan dalam game akan membantu mencari konsentrasi terbaik kita sehingga saat mengalami kekalahan atau bermain sedikit buruk, kita bisa tetap fokus bermain dan kembali tampilkan permainan terbaik di partai berikutnya.

3. Clinton 'Fear' Loomis

Pemain veteran DOTA 2 asal Amerika Serikat ini diberi julukan 'Old Man Fear'. Clinton 'Fear' Loomis adalah pemain paling berpengalaman dan salah satu sosok pro player yang paling dihormati baik oleh sesama player maupun para penggerak eSports lainnya. Tidak hanya terkenal akan keuletannya, tapi Fear juga menunjukkan kegigihannya bertahan dalam sengitnya kompetisi DOTA 2 papan atas. Sempat merasakan bagaimana sulitnya berlatih dengan keterbatasan sumber daya tak lantas membuat Fear menyerah dalam mengejar mimpinya jadi seorang gamer profesional DOTA 2.

Sekarang, Fear merupakan sosok pemain, pelatih, sekaligus co-owner dari Evil Geniuses, sebuah organisasi eSports besar di Amerika Utara. Sebagai pemain, rutinitas latihannya terdiri dari latih tanding dalam format Bo2 dengan beragam lawan. Biasanya dimulai dari jam 11 siang hingga jam 6 sore. Rata-rata dia bersama tim akan bermain sebanyak empat sampai enam game per hari.

Namun, ada pembeda yang jelas antara berlatih dengan tim dan pengembangan skill individu, yang dilakukan sebelum dan setelah latihan tim. Fear juga menambahkan poin yang sama dengan pernyataan Ohaiyo, bahwa ketika mulai berlatih, biasanya permainan di game pertama masih kaku dan membutuhkan dua atau tiga game lagi agar bisa 'panas'.

Bila selepas itu permainan tak kunjung membaik, maka latihan akan dihentikan dan dialihkan dangan aktivitas lain untuk mengembalikan motivasi.

4. Koen 'Koenz' Schobber

Sebagai salah satu pendiri International e-Sports Federation (IeSF), dan juga pemain profesional Rocket League, Koen 'Koenz' Schobber berbagi pemikirannya ketika menceritakan pengalamannya berbincang dengan atlet-atlet eSports profesional.

Koen menuturkan bahwa berlatih delapan jam sehari itu bukanlah aktivitas normal, meski beberapa pekerjaan paling umum di dunia juga mengharuskan kita untuk duduk depan PC selama berjam-jam tiap harinya.

Perlu diperhatikan bahwa waktu istirahat juga harus cukup. Jangan memaksakan untuk bermain terus menerus karena hal itu melewati batas ketahanan tubuh manusia. Bukan hanya menurunkan stamina dan kesehatan tubuh pada jangka panjang, fokus kamu juga akan menurun, dan akibatnya jadi cepat lelah saat berlatih maupun dalam pertandingan.