Esports.ID

Melalui Game Chaingers, UNICEF Ajak Gamer Bantu Anak-Anak

Rendy Lim
09/02/2018 15:45 WIB
Melalui Game Chaingers, UNICEF Ajak Gamer Bantu Anak-Anak
Google Images

UNICEF, organisasi resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang fokus di antaranya menolong anak-anak di seluruh dunia, mengadakan program khusus untuk membantu anak-anak korban perang Suriah. Gamer pun menjadi target utama dari program kampanyenya, di mana UNICEF menyebutkan bahwa para gamer tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengikuti gerakan ini. Bagaimana caranya?

Awalnya, juru bicara BETC (agensi periklanan, kolaborator dari UNICEF) mempertanyakan di mana mereka bisa menemukan graphics card yang kuat dan dengan jumlah banyak untuk menjalankan kampanye ini. Namun setelah 10 menit berselang, mereka mendapatkan jawaban dan kalangan gamer menjadi solusinya.

Bagi gamer yang memiliki graphics cards pada komputernya, kamu hanya cukup mengunduh software Claymore dan menggunakannya untuk menambang uang digital tersebut. Game Chaingers akan mengubah graphics cards kamu menjadi alat untuk menambang Ethereum, melalui blockchain fundraising yang akan disalurkan ke UNICEF. Namun, jika kamu sudah memiliki Ethereum, kamu bisa langsung menyumbangnya ke dompet Ethereum UNICEF di 0x29165d4a-5eE555b3B4-7FA7d4772f-35FE41dB2769

Beberapa tim  dan player profesional yang menjadi ambassador untuk kampanye ini di antaranya SK Gaming, E-LVETS, Team EnVy, LNL, Gamers Origin, dan G2 Esports. Target yang ingin dicapai oleh UNICEF adalah sedikitnya 800 gamer yang akan berkontribusi. Dan, hingga saat ini, 652 gamer sudah mengikuti kampanye yang dimulai sejak awal bulan Februari, dan dijadwalkan berakhir pada tanggal 31 Maret 2018.

Hasil dana yang dikumpulkan dari Game Chaingers ini akan digunakan oleh UNICEF untuk membantu jutaan anak-anak yang berada di Suriah, dan area perbatasannya, dengan fokus pada 4 hal utama yakni:

  • Air dan Sanitasi
  • Pendidikan
  • Perlindungan Anak
  • Kesehatan

Keempat hal tersebut menjadi hal yang terpenting menurut UNICEF, terutama bagi anak-anak yang hidup di medan perang dan sulit untuk dijangkau. Oleh karena itu, mereka menjadi sangat rentan terhadap kesehatan dan perkembangannya, baik fisik ataupun mental.