Smartfren

Buka Suara! Diskriminasi & Pelecehan Wanita Di Kantor Riot Games

Rendy Lim
08/08/2018 15:04 WIB
Buka Suara! Diskriminasi & Pelecehan Wanita Di Kantor Riot Games
Riot Games

Developer dari salah satu game MOBA paling populer saat ini League of Legends, Riot Games saat ini kembali tersandung kasus yang cukup berat. Bukan permasalahan dengan developer Mobile Legends yang kali ini dihadapi mereka, namun kasus diskriminasi kepada karyawan perempuan yang terjadi di kantor mereka. 

Melalui laporan wawancara panjang yang ditulis oleh Cecilia D'Anastasio, jurnalis dari Kotaku, terungkap bahwa selama ini terjadi perlakuan yang tidak pantas terhadap perempuan di kantor Riot, sebagaimana diungkapkan oleh 28 perempuan mantan karyawan Riot yang berani bersuara atas pelecehan seksual serta budaya yang tidak menghargai perempuan dalam perusahaan tersebut. 

Meski baru diangkat kemarin, artikel tersebut sudah diakses oleh 283,4k pembaca hingga saat ini. Berhasil mengungkap secara cukup detail, beragam kasus mulai dari pelecehan seksual, diskriminasi saat proses perekrutan kerja, hingga kebiasaan buruk kepada karyawan wanita dijelaskan secara terperinci dalam artikel tersebut. 

Banyak dari mereka yang mengkritik budaya yang membuat dominasi laki-laki terlihat lebih tinggi di kantor Riot adalah sebab utama dan dasar terjadinya beragam deskriminasi gender, bahkan pelecehan yang sangat tidak pantas dari bos atau rekan kerja yang menunjukkan foto alat kelaminnya ke karyawan perempuan. 

Mulai dari saat perekrutan karyawan, budaya dominasi laki-laki sudah mulai terlihat dengan cara mereka serta preferensi terhadap karyawan laki-laki dibanding perempuan. Salah satu karyawan perempuan mengatakan bahwa dirinya pernah dipaksa untuk menjelaskan secara spesifik item yang ada di World of Warcraft, untuk mendapatkan celah saat interview tersebut. Kasus lainnya adalah menanyakan 'How big is your 'e-peen'?" *penis*, ketika sedang mendiskusikan pengalaman kerja. 

Menurut mereka, Riot Games juga memberikan alasan yang tidak masuk akal ketika menolak perempuan. Mereka mengatakan bahwa perempuan terlalu ambisis atau dengan kata lain sangat mengganggu. 

Tidak berhenti di sana, permasalahan juga ditemukan ketika mereka mulai bekerja. Salah satunya terdapat kasus dimana seorang perempuan dipindahkan ke bagian lain dan menemukan bahwa bagian sebelumnya diberikan kepada karyawan laki-laki yang belum mempunyai pengalaman di bagian tersebut. Hal lainnya adalah perempuan yang sering kali menjadi bahan gosip hanya karena mempertahankan idenya di saat meeting. 

Selain itu, mantan karyawan Riot Games di tahun 2016 lalu mengungkapkan bahwa promosi dirinya ditunda hanya dengan alasan dirinya terlalu berbicara apa-adanya serta memberikan open feedback. Tidak hanya itu, terdapat juga karyawan yang tidak jadi naik pangkat karena menghindar ketika dirinya 'dihampiri' oleh Supervisornya di Riot. Karyawan tersebut kemudian dipecat dan berjalan keluar dari kantor seperti seorang kriminal. 

Banyaknya perlakuan yang tidak terpuji ini berhasil menarik simpati dan perhatian dari mantan karyawan dan karyawan Riot Saat ini. Komentar di Twitter pun bermunculan. Salah satunya adalah Katie Chironis, senior narrative designer di Riot Games ini menjelaskan bahwa timnya memiliki wanita-wanita dengan bakat yang hebat, serta di interview oleh wanita-wanita yang hebat juga saat bekerja pertama kali di Riot. Meski mendapatkan pengalaman positif selama di Riot, dirinya tetap memberikan support kepada mereka yang pernah terluka. 

Sedangkan mantan karyawan lainnya banyak mengapresiasi investigasi yang dilakukan oleh D'Anastasio. Jessie Perlo yang sebelumnya bekerja sebagai Player Engagement and Communications mengatakan hingga saat ini dirinya masih berusaha menyembuhkan diri dari apa yang terjadi saat bekerja di Riot. Kristen Fuller, mantan player relations di Riot juga membuka topik yang menjelaskan bahwa beberapa perempuan pernah mengaku dilecehkan secara seksual di tempat kerja. 

Mulai dari pantat mereka yang ditampar, diri mereka diraba ketika pesta, hingga diperkosa saat events Riot. Pada awalnya hal ini cukup mengejutkan bagi dirinya, namun lama kelamaan hal tersebut menjadi biasa saja. 

Kejahatan atau pelecehan seksual ditempat memang cukup sering terjadi di tempat kerja. Diskriminasi gender serta budaya dominasi laki-laki juga membuat sebuah tempat kerja tidak nyaman dan harusnya menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan tersebut karena tentunya akan berdampak pada image dan reputasi dari perusahaan tersebut saat ini dan kedepannya. 

Untuk Riot Games, perusahaan yang sudah berdiri sejak 2006, serta memiliki 2500 karyawan di 20 kantor membuat perusahaan ini sangatlah besar. Belum lagi di tahun 2013 lalu, Riot Games berhasil meraih penghargaan dari Business Insider sebagai salah satu dari 25 perusahaan teknologi terbaik untuk dijadikan tempat bekerja. Bagaimana pendapat kamu sobat eSports?