Esports.ID

Ini Kendala Gamer Amatir Jadi Tim Esports Profesional

Billy
18/12/2018 10:56 WIB
Ini Kendala Gamer Amatir Jadi Tim Esports Profesional
Esports.ID

Membentuk tim esports profesional bukanlah hal yang mudah dan banyak hambatan yang menghalangi, namun tetap saja banyak gamer yang bermimpi membentuk sebuah tim besar, bereputasi, dan disegani di kancah elit nasional. Tapi tahukan kamu kendala-kendala apa saja yang bakal dihadapi dalam perjalanan para amatir menciptakan tim profesional?

Masalah Komitmen, Disiplin, dan Ekspektasi Pemain

Awal membentuk tim, biasanya para pemain masih sangat bersemangat untuk latihan, ikut turnamen, dan sebagainya. Namun kelemahan dari tim baru ini kerap muncul saat mulai melakukan rutinitas tak terjadwal. Selain jadwal latihan yang bersifat spontan, terkadang metode latihannya pun tak disertai goal atau tujuan. Hal ini lebih didasari keengganan untuk berkorban!

Rela berkorban itu menjadi satu hal yang selalu disebut oleh sejumlah pemain top Indonesia ketika ditanya mengenai faktor keberhasilannya menjadi pro. Pengorbanan itu sulit, karena termasuk merelakan waktu, keluarga, pacar, bahkan pendidikan demi mencapai keinginannya.

Para amatir cenderung berpikir bermain dan latih tanding tiap hari adalah sebuah metode latihan yang baik, padahal itu tidak sepenuhnya benar. Karena sebagian besar pemain pro menghabiskan waktu latihan dengan mengamati dan membicarakan strategi baru yang dirasanya efektif. Dengan begitu, sebuah tim tak cuma modal kompak dan punya skill individu, namun juga kaya strategi.

Setelah beberapa lama berlatih, terkadang mulai muncul pemain yang berhalangan hadir diakibatkan jadwal latihan yang bentrok kegiatan lain sehari-harinya. Makin lama komitmen untuk bermain dengan tim yang diinginkan berkurang dan akhirnya tim amatir itu hilang dengan sendirinya karena inkonsistensi dalam latihan.

Belum lagi kalau mengalami kekalahan dalam turnamen akibat ekspektasi yang berlebihan dari tiap pemainnya. Bermain game secara individu dan turnamen adalah ranah yang berbeda meski permainannya sama. Tim yang punya pengalaman dan rajin berlatih akan unggul dibanding tim yang punya skill namun kurang kerjasama. Menjadi tim profesional tak bisa cuma melihat soal kebolehan anggota tim, namun juga komitmen dalam berlatih, melatih mental baja untuk tidak mudah menyerah, dan mau mengoreksi diri dari kesalahan.

Wadah Turnamen Amatir yang Disusupi Tim / Pemain Pro

Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, setidaknya bagi penulis yang sempat menjajal rasanya mengikuti turnamen untuk kemudian ditumbangkan dengan mudah oleh pemain 'pro' dalam suatu turnamen DOTA 2 di daerah Depok sekitar tahun 2015. Kejadian tersebut masih kerap terulang di berbagai turnamen dan seakan menjadi kewajaran, karena meskipun disertai protes peserta lain tapi tim / pemain pro ini pasang muka tebal dengan andalkan koneksi, kenalan, atau kedekatan dengan penyelenggara agar komplain tersebut tak digubris.

Belum lama ini juga terjadi kasus pemain pro yang ikut serta dalam sebuah turnamen amatir.  Kerjasama antara pihak sponsor yang merupakan provider jaringan komunikasi  dengan penyelenggara platform turnamen yang concern kepada pemain casual, rookie, amatir untuk bantu wujudkan mimpi jadi pemain pro, sekaligus memperhatikan perkembangan pemain perintis di tanah air. Sayangnya, kompetisi berkala itu disusupi oleh tim yang mengikutsertakan pemain pro. Dalih mencari nama, sponsor, dan prestasi menjadi pembenaran bahwa mereka layak ikut meski menaungi mantan pemain tim pro terkemuka yang terdaftar di berbagai kompetisi pro sebelumnya.

Hasilnya tentu sangat terbaca, lawan-lawannya tumbang tanpa perlawanan bahkan mereka menyapu bersih gelar juara setiap kali mengikutinya. Setelah pihak organizer mengetahui perihal tersebut, maka diputuskan bahwa tim pro yang bersangkutan tidak dapat mengikuti turnamen berdasarkan bukti yang dikumpulkan dan sudah diinformasikan pada tim atas tindakannya menciderai spirit turnamen serta melanggar peraturan.

Ini adalah sebuah ironi bagi orang yang mengatakan ingin memajukan esports Indonesia tetapi malah membunuh perkembangan esports itu sendiri. Esports bukan cuma ada di level atas, di mana pemain mendapatkan gaji, bergelimang harta, dan dipuja-puja. Scene amatir pun penting untuk dipertarungkan demi terciptanya regenerasi pemain serta menemukan bakat-bakat baru.

Tanpa adanya pemain baru, jangan harap kompetisi esports nasional akan bertahan. Kita mungkin akan melihat pemain yang sama untuk berpuluh-puluh tahun meraup turnamen-turnamen lokal namun mingkem di kontestasi internasional karena faktor usia yang sudah habis masa potensialnya, menyikat kesempatan gamer muda menunjukkan bakatnya sebagai penerus bintang-bintang yang saat ini kita elu-elukan. 

Kehadiran 'penyusup' dalam turnamen amatir ibarat membunuh mimpi gamer yang ingin menjadi pemain top. Ketika mereka mengetahui ada tim / pemain elit mengalahkannya, saat itu juga impian mereka terkubur karena menyadari tak ada jalan menuju sukses bila tahap turnamen level rendah, plus iming-iming hadiah tak seberapa, tetap disikat juga oleh profesional.

Turnamen AMATIR diciptakan untuk AMATIR agar pertarungan seimbang. Kehadiran satu apalagi dua penyusup PRO dalam turnamen tersebut bakal menimbulkan ketimpangan di antara peserta. Apa yang dilakukan penyelenggara untuk melarang pemain dengan status pemain pro bertanding adalah keputusan tepat demi melindungi puluhan tim amatir murni untuk bisa berkompetisi secara sehat.

Sewajarnya, tim baru yang memiliki modal untuk mengakusisi pemain eks-pro sudah sepantasnya bersaing dengan profesional sekelasnya. Kecuali ada kekhawatiran timnya kalah saing sehingga memilih lawan amatir-amatir yang bukan tandingannya. Kalau pun juara yang ada di pikiran orang adalah tim pro juara amatir cuma mampu menang turnamen receh.

Buktikan kalau memang layak menarik sponsor dengan memenangkan turnamen besar di tanah air, atau setidaknya lolos qualifier yang tersedia, bukan dengan cara mengambil lahan para pemula.

Itu dia beberapa kendala utama yang sering dialami oleh tim amatir, secara spesifik di Indonesia, ketika mereka berusaha jadi tim profesional. Apapun kendala yang kamu hadapi saat ini, jangan menyerah dan tetap berlatih ya Sobat Esports!