LA Bolds Main

Momen Esports Tak Terlupakan Selama Tahun 2018

MalZaHar
23/01/2019 15:31 WIB
Momen Esports Tak Terlupakan Selama Tahun 2018
Era Kebangkitan Menuju Masa Keemasan Esports Indonesia

Menilik satu tahun terakhir, ada banyak indikasi yang memperlihatkan momen-momen esports tak terlupakan sepanjang tahun 2018. Momen ini bisa dibilang bersejarah karena menunjukkan kiprah pemain ataupun tim asal tanah air yang mampu tampil baik di kancah internasional.

Meski di beberapa momen tersebut, mereka belum mampu meraih titel juara, namun perjuangan serta pengorbanannya patut kita apresiasi. Apalagi dengan hausnya para pecinta dunia esports di Indonesia akan prestasi membanggakan, ini bisa jadi pintu pembuka untuk lahirnya pencapaian puncak di kemudian hari.

10. Partisipasi PG.BarracX di Galaxy Battles II

Merintis asa dari turnamen amatir bertajuk New Blood Championship, tim PondokGaming BarracX ini tak gentar hadapi lawan-lawan berkelas di ajang yang seharusnya masuk kalender turnamen Major DOTA 2 Pro Circuit (DPC) pada musim perdana.

Berlangsung di Filipina, 19-21 Januari 2018, meski hanya berpredikat runner-up di NBC, punggawa PG.BarracX berhak atas jatah peserta wild card dan harus ladeni permainan tim elit serta langganan TI, semacam OG, Evil Geniuses, TNC, paiN, dan beberapa tim besar lainnya.

9. Duet Xccurate dan BnTeT di TyLoo

Dengan minimnya kompetisi lokal yang bisa memberi jalur kompetitif ke kancah lebih besar, maka wajar saja bila duo maut scene CS:GO di Indonesia, seperti Hansel 'BnTeT' Ferdinand dan Kevin 'xccurate' Susanto akhirnya lebih memilih untuk bela tim asal Cina, TyLoo.


Reuni duo
 ini memang tidak berjalan mulus awalnya, karena xccurate butuh sedikit penyesuaian dengan gaya bermain tim barunya. Namun, lambat laun kiprah xccurate seakan tak tergantikan untuk bertandem dengan BnTeT untuk angkat prestasi TyLoo ke jajaran tim CS:GO dunia.

8. Debut Eggsy Berbuah Trofi Juara PLA 2018

Tanpa hingar bingar, Ega 'Eggsy' Rahmaditya geluti kompetisi internasional pertamanya dengan rasa optimis tinggi dan skill mumpuni. Hadir sebagai peserta termuda (18 tahun), pemain yang sempat membela panji Ultimate Gaming ini akhirnya sukses kalahkan para pesaingnya di PlayStation League Asia (PLA) 2018. Tidak hanya merebut uang hadiah senilai US$3.000, Eggsy juga raih satu tiket berlaga di EA Sports FIFA 18 Global Series Playoff, sebagai wakil Indonesia.

Raihan trofi juara di PLA 2018 pun berimbas positif bagi diri Eggsy yang selanjutnya direkrut oleh organisasi Rex Regum Qeon (RRQ). Dalam wawancara khususnya bersama Esports.ID, Eggsy sangat menyayangkan bahwa meski sudah mulai banyak organizer besar yang menggelar turnamen ataupun event FIFA, namun masih belum bisa bertanding di ajang multibangsa seperti Asian Games, maupun SEA Games mendatang. Harapan semua atlet esports tentunya bisa tampil dan wakili bangsa, bahkan kebanggaan tersendiri bila dapat meraih medali emas untuk negara.

7. LGS Terakhir di Indonesia! Bigetron Raih Gelar Pamungkas

League of Legends Garuda Series (LGS) merupakan kompetisi puncak bagi tim-tim LoL Indonesia untuk bersaing merebut slot menuju jenjang kompetisi internasional. Berlangsung sejak tahun 2014, pihak Riot Games secara resmi 'meniadakan' event ini dengan berakhirnya penyelenggaraan LGS Spring 2018, dan menggantikannya dengan format SEA Tour.

Dari 8 tim yang mengikutinya, dua tim terbaik yang berhasil lolos ke partai puncak adalah Headhunters dan Bigetron Esports. Pertandingan antara dua tim yang sekilas berbeda kelas ini nyatanya munculkan kejutan ketika tim relatif baru namun gigih berjuang ini mampu jungkalkan favorit juara, sekaligus langganan wakil Indonesia di ajang internasional, melalui partai sengit yang berakhir dengan skor 3-1. Sekaligus juara terakhir dari gelaran LGS di Indonesia.

6. GESC Indonesia, Angkat Potensi Bangsa di Mata Dunia

Salah satu event yang layak menjadi pilar kebangkitan scene esports Indonesia di mata dunia, meskipun belum dari segi prestasi, tapi setidaknya kita bisa menyelenggarakan dan menjamu tamu-tamu internasional untuk berlaga di kompetisi DOTA 2 Pro Circuit pertama di tanah air. Terlebih antusiasme luar biasa dari para fans tim-tim elit dunia yang rela sambangi area pertandingan meski agak 'terpencil' lokasinya.


Tim RRQ yang berhasil menjadi perwakilan tuan rumah memang belum mampu berkutik, namun pengalaman bertanding dengan tim-tim seperti Evil Geniuses, VGJ.Thunder, Na'Vi, dan lain sebagainya sudah bentangkan harapan besar, apalagi seluruh fans DOTA 2 di dunia turut memperhatikannya. Sukses sebagai penyelenggara juga memberi asa bagi gelaran event serupa ke depannya.

5. Pesona MPL Season 1 Padatkan Mal Taman Anggrek

Event ini juga membawa citra baru bagi dunia esports di Indonesia, khususnya bagi penggemar gim Mobile Legends, yang begitu memadati hampir seluruh area Mal Taman Anggrek, pada saat penyelenggaraan Mobile Legends: Bang Bang Pro League Season 1 (MPL). Siapa yang menyangka seluruh gamer dari seluruh pelosok Jakarta dan sekitarnya rela datang demi melihat para idola gamer mereka beradu ilmu di kompetisi liga pertama berbasis ML ini.

Sosok-sosok idola seperti Lemon, Jess No Limit, Marsha, Donkey, dan banyak lagi seakan menjadi selebritis papan atas sepanjang acara berlangsung. Acara ini juga seakan membuka mata seluruh penggiat esports di Indonesia akan begitu 'menggiurkan'-nya pentas kompetisi game di tanah air. Akhirnya pun kian banyak pihak-pihak yang mulai cetuskan event-event serupa di berbagai tempat dan lokasi.

4. IYD dan Xepher Gondol Juara Turnamen Minor

Secara individu, fans DOTA 2 di Indonesia boleh berbangga memiliki pemain-pemain yang bertalenta tinggi dan bahkan diakui oleh para pemain dunia. Ambil contoh saja, Muhammad Rizki 'InYourdream' / IYD, yang sebenarnya laris manis untuk membela tim luar negeri tapi tetap setia membela tim lokal. Sampai adanya tawaran dari tim Tigers, bersama 1437 dan juga Xepher.


Performa tim ini pelan tapi pasti terus menunjukkan grafik prestasi meningkat sepanjang partisipasinya di musim DPC pertama. Di penghujung tahun, salah satu pencapaiannya adalah 'nyaris' lolos ke TI8 andai saja tidak kena comeback yang menyesakkan saat menghadapi TNC Predators di final closed qualifer regional Asia Tenggara. Namun, akhirnya dibayar tuntas dengan trofi pertama bagi pemain DOTA 2 asal Indonesia di ajang turnamen Minor, DreamLeague 10.

3. Terbaik di Hearthstone SEA, YukiUsagi Menuju Pentas Dunia!

Kata siapa gamer wanita Indonesia tidak bisa unjuk prestasi? YukiUsagi buktikan talenta wanita di esports juga mampu angkat nama bangsa ke ajang prestisius dari kancah WESG SEA. Berkiprah gemilang di cabang gim Hearthstone, pemilik nama lengkap Feby Dwi ini puncaki persaingan nasional dan Asia Tenggara, untuk menembus World Electronic Sports Games (WESG) Finals di Cina, tahun ini.

Meski bertanding di cabang gim minim popularitas, atau kurang padat kompetisi, atlet-atlet esports dari Hearthstone kerap kali membanggakan nama bangsa. Deretan nama pemain pro lokal miliki kualitas setara dan secara berkala terus kirimkan wakil-wakil terbaik di kancah internasional.

2. RRQ Athena Kuasai Asia dan Juara Dunia PUBG Mobile

Di ajang bertajuk PUBG Mobile Star Challenge 2018, sebagai kompetisi global terbesar dari gim favorit bergenre battle royale berplatform mobile ini, RRQ Athena sukses mengungguli 19 tim terbaik PUBGM dari enam regional untuk merengkuh titel juara dunia. Pada partai finalnya, tim yang berisikan semua pemain asal Thailand namun berafiliasi langsung dengan divisi dari organisasi esports tanah air ini, sukses menorehkan performa apik dan stabil melalui pencapaian 5 Chicken Dinner secara berturut-turut.

Hal lain yang perlu dibanggakan dari perhelatan PUBG Mobile Star Challenge tahun lalu adalah keberadaan tiga tim yang notabene merupakan wakil tim esports asal Indonesia. Di luar RRQ Athena, masih ada tim EVOS Burnout, dan juga Bigetron Esports (juara PINC 2018 di Indonesia), yang sama-sama tampil maksimal dengan daya juang tinggi. EVOS Burnout sendiri duduki posisi enam, sementara Bigetron harus puas di peringkat 9 dari 20 peserta. Ini bukti nyata bahwa tim ataupun pemain asal tanah air bisa bersaing pula di kasta tertinggi battle royale dunia!

1. Sukses Tuan Rumah dan Generasi Emas Esports di Asian Games

Sejarah akan turut mencatat bahwa Indonesia sebagai penyelenggara Asian Games pertama kali yang menggelar cabang ekshibisi dari kompetisi gim (esports) pada suatu ajang multibangsa. Bahkan torehan sejarah itu kian berkesan karena atlet nasional kita bisa meraup 1 medali emas dan 1 medali perak dari dua cabang berbeda, yakni Clash Royale dan Hearthstone.

Sang peraih medali emas tersebut adalah Ridel 'BenZer' Yesaya Sumarandak, atlet muda asal Sulawesi Utara yang tampil gigih melawan pemain Clash Royale terbaik wakil negara Asia lainnya. Sementara itu dari cabang Hearthstone, Hendry 'Jothree' Handisurya, pertahankan eksistensi pemain TCG asal tanah air berprestasi di kancah internasional dengan raihan medali perak.

Bersama dengan wakil Indonesia di cabang lain, atlet esports tanah air bisa dibilang sudah memasuki generasi emas yang harus terus didukung demi prestasi maksimal di perhelatan selanjutnya. Mungkin di SEA Games 2019?