Esports.ID

Resolusi Positif Demi Esports Indonesia Capai Puncak di 2019

Billy
01/01/2019 15:51 WIB
Resolusi Positif Demi Esports Indonesia Capai Puncak di 2019
Esports.ID

Masa pergantian tahun akan selalu identik dengan adanya resolusi, atau secara awam bisa kita bilang saja harapan baru di satu tahun ke depan! Sebelum bicara resolusi, ada baiknya juga kita belajar mensyukuri bahwa tahun demi tahun kesadaran akan esports terus berkembang dan citra positif pun terus tumbuh pesat di kalangan masyarakat luas. Namun, tetap ada celah untuk perkembangan, di mana kami yakin tahun 2019 ini akan berujung pada puncak kejayaan esports itu sendiri, baik di Indonesia maupun global sekalipun!

Apakah kira-kira resolusi dari semua penggiat esports dan insan yang berkecimpung di dalamnya? Mungkin terlalu berlebihan, tapi rasanya tidak akan jauh berbeda dengan empat resolusi positif berikut yang sangat patut kita kedepankan bakal mewarnai industri game kompetitif di Indonesia kian meriah!

- BIGGER INVESTMENT

Di tahun 2018, selain sponsor ternama yang langganan menghelat event esports, mulai banyak sponsor baru yang "mengetes permukaan air". Hebatnya, mereka meluaskan visi bukan saja menguatkan lingkup esports profesional namun juga pemula.

Mulai dari yang familiar di telinga kita, Mineski dipastikan bakal lebih galak dengan guyuran 30 miliar Rupiah untuk tumbuh-kembangkan esports lokal. Kemudian tawaran konsep esports unik ala brand fighting kenamaan Asia, One Championship yang diisukan bakal menghelat turnamen dengan hadiah terbesar di Indonesia pada tahun 2019. Lalu ESL Indonesia yang akhirnya meresmikan kejurnas resmi bergandengan dengan investor tanah air Salim Group, menambah prestisius bagi para atlet esports tanah air bisa berpartisipasi dalam event ESL, yang lebih banyak berkutat di benua Eropa dan lainnya.

Beberapa "online shop" terkemuka tanah air juga meluaskan branding mereka dengan menggelar turnamen esports. Seperti Tokopedia dengan IESPL yang melibatkan 12 tim profesional terbaik tanah air, sampai JD.ID High School League yang memberi wadah bagi insan pelajar yang punya bakat terpendam dalam kompetisi gim.

Tak lupa Telkomsel dengan rutinitas tahunan menghelat Indonesia Games Championship dan DuniaGames League. Diikuti oleh Smartfren yang fokus memberdayakan gamer amatir dan pemula lewat "Smartfren 4G Battle". Beberapa investor di atas dipastikan bakal meramaikan kembali hiburan dan ladang kompetisi tanah air di tahun 2019. Perlu diingat juga bahwa pemerintah di tahun ini mulai aktif memberikan dukungan serta mendorong para pegiat esports agar makin aktif bahkan menjadikan esports sebagai masa depan mereka.

- BIGGER TOURNAMENTS

Tentu dengan iming-iming investasi yang lebih besar dan semoga tetap berkelanjutan, tahun 2019 akan padat dengan event-event yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Bila awal tahun 2018 sudah terhenyak dengan hadirnya turnamen resmi DOTA 2 pertama di tanah air dalam GESC Indonesia Minor yang diakhiri dengan kesan positif dari para talent serta tim yang datang ke ICE BSD, sehingga harapan besar untuk pagelaran Major juga bisa terwujud di tahun ini.

Acer Predator League 2019 juga janjikan turnamen dengan hadiah dan kuota turnamen lebih besar karena di event keduanya menghadirkan DOTA 2 dan PUBG sebagai cabang tanding. ESL National Championship juga terselenggara pertama kalinya dalam waktu dekat. Berikut turnamen lanjutan di tahun 2018 seperti IESPL Season 2 dan JD.ID High School League yang akan makin meriah dengan melibatkan kalangan pelajar tingkat lanjut, bahkan mungkin kelas karyawan.

Variasi game yang mulai banyak di tahun kemarin seperti PUBG (PC atau Mobile) serta genre battle royale lain bakal terselenggara lebih masif mengikuti tren gamer yang mulai keranjingan tipe gim tembak-tembakan, bisa juga akibat kejenuhan pada MOBA.

Namun, Mobile Legends, AOV, dan tentunya DOTA 2 dengan ratusan ribu loyalisnya akan tetap disuguhi turnamen bergensi apalagi muncul banyak pesaing baru menjelang akhir tahun menyebabkan peta kekuatan nasional sulit diproyeksi ke depannya.

- BIGGER ACHIEVEMENTS

Korelasi positif antara maraknya turnamen dan guyuran investasi adalah motivasi para atlet yang membara. Tahun 2018 sudah cukup membanggakan karena banyak utusan Indonesia yang berprestasi di kancah internasional.

Seperti duo indopride, Muhammad "inyourdream" Rizky dan Kenny "Xepher" Deo yang jadi orang Indonesia pertama yang menjuarai turnamen Pro Circuit DOTA 2 berkelas Minor. Sebuah peningkatan pesat bila menilik di awal tahun tim Indonesia cuma mampu ikutan mejeng.

Tim DOTA 2 lainnya menyusul keberhasilan duo Indopride. EVOS Esports tampil di ESL One Hamburg dan BOOM.ID akan tanding di Bucharest Minor. PG.BarracX juga disibukkan berbagai macam turnamen regional seperti CEG DOTA 2 Pro Series di Australia hingga menjuarai JoinDOTA League Season 14.

Lalu RRQ.Endeavour yang terkenal sebagai raja Point Blank tanah air meraih posisi kedua di PBIC walau juara satu sebenarnya jadi target utama mereka. Namun konsistensi mendominasi turnamen PB di dalam dan luar negeri bukan pencapaian yang bisa dirivali oleh tim Indonesia lainnya bahkan dari region luar.

Bahkan di tahun ini kita menyaksikan bakat terpendam Indonesia di cabang Clash Royale dan Hearthstone wanita lewat penampilan BenZer Ridel di Asian Games 2018 (CR) dan YukiUsagi (HS) yang siap tantang pesaing Hearthstone lainnya di WESG 2019.

Tren meningkat dari waktu ke waktu menandakan kompetensi dari atlet gim profesional tanah air makin matang secara skill dan mental. Dengan dukungan yang semakin besar di tahun 2019, hanya masalah waktu hingga Indonesia menyamai prestasi rival regional seperti Malaysia dan Filipina untuk skala internasional.

- SAME OLD DRAMAS

Bukan sebuah hal yang tabu bila drama tetap terjadi di tahun depan. Bahkan bisa jadi lebih kacau dan makin intens. Penyebabnya terutama kesiapan insan industri itu sendiri, baik pihak penyelenggara, peserta, organisasi esports hingga investor yang belum 100% berdedikasi penuh menciptakan iklim esports yang lebih baik.

Mulai dari pelaku utama, bintang di atas panggung, para pemain pro masih kerap bertindak indisipliner mengegokan rasa kebintangan mereka. Terbukti di beberapa turnamen, inkonsistensi masih jadi problema klasik yang sulit diminimalisir. Para pemain kerap telat tanding sesuai jadwal, mengulur-ngulur waktu hingga berprilaku buruk. 'Toksisitas' memang sangat lekat dengan stigma gamer apalagi kebanyak berusia sangat muda, namun pengembangan diri dan disiplin yang ditanamkan oleh organisasi penaung seharusnya bisa jadi upaya meningkatkan rasa profesionalisme para atlet esports tanah air.

Berbicara organisasi, terkadang ada juga yang masih bersikap kurang profesionalisme, karena memanfaatkan iklim esports yang dinamis, kadang mereka merekrut pemain tanpa kontrak jelas bahkan mengabaikan hak-hak wajib seorang atlet profesional. Seperti gaji minimalis, pembayaran yang telat, sampai beberapa kasus tak dibayar hingga pemutusan, serta tumpang tindih kontrak.

Hal ini merupakan sesuatu hal yang awam bagi pemain sehingga tidak dibenarkan ikut menyalahkan atlet akibat minimnya pengetahuan mereka tentang hubungan kerja. Minimnya pendampingan hingga kurangnya kejujuran dari organisasi esports kerap memicu skandal klasik seperti ini yang baru akan terkuak ketika hasil tak sesuai jadi nasib yang terlalu sering dicicipi.

Beberapa penyelenggara termasuk investor juga perlu diawasi ketat agar citra industri kompetisi gim tanah air tidak terkesan bodong. Seperti kasus GESC yang bahkan banyak diisukan miring akibat pembayaran gaji untuk talent sampai peserta tak kunjung cair. Padahal reputasi dan citra positif yang diutarakan oleh pihak-pihak yang terlibat langsung akan menjadi sambaran bagi investasi selanjutnya yang lebih besar.

Terlepas dari beberapa kekurangan fundamental yang menahun, proyeksi tahun 2019 bisa dikatakan akan bergerak sangat positif. Sekali lagi dikarenakan tren yang menanjak dari tahun ke tahun terutama dari aspek investasi, turnamen dan prestasi yang naik beriringan. Tentu ini juga jadi pertanda bagi kamu yang masih mengurungkan niat jadi atlet esports untuk berusaha lebih keras sampai pintu profesional terbuka.

Apa harapanmu untuk esports Indonesia di tahun 2019 guys?