IESF

Tak Ada Lagi Darah Hijau, Cina Larang Gim Berunsur 'KILL'

Meneketehe
21/05/2019 10:05 WIB
Tak Ada Lagi Darah Hijau, Cina Larang Gim Berunsur 'KILL'
Makin Ketat! Berlebihan atau Serius 'Sehatkan' Gim?

Sepertinya pemberlakuan sejumlah aturan ketat terhadap peredaran gim-gim online di Cina belum mencapai puncaknya. Setelah beberapa gim populer milik developer besar terpaksa lakukan 'sedikit' penyesuaian, kini gamer setempat harus lebih bersabar lagi untuk menerima dampak perubahan terbaru.

Pemerintah di Cina sudah lebih dulu memutuskan untuk kembali meninjau ulang hak peredaran dan monetisasi sejumlah gim online. Akibatnya, gim-gim tersebut harus membuat alternasi sebelum dapat rilis di negeri tirai bambu tersebut. Termasuk mengganti warna darah dalam gim mereka jadi warna lain, seperti misalnya hijau.

Nyatanya, sekarang warna darah hijau pun bakal dilarang. Bahkan, peraturan baru ini juga mencakup larangan penggunaan kata 'KILL' dalam fitur apapun di sebuah gim. Jadi, ke depannya, gamer di Cina tidak akan lagi melihat darah warna apapun, mayat ataupun tengkorak manusia, berikut organ manusia yang terpisah, serta kata 'KILL' di manapun dalam gim. Biar lebih greget lagi, pemerintah Cina juga mengimbau para developer dan publisher untuk merilis gim dengan judul yang secara positif mengangkat nilai-nilai dan budaya di Cina.

 

Bayangkan, padahal Tencent baru saja menarik ulang peredaran PUBG Mobile di Cina dan menggantikannya dengan gim sejenis (Game of Peace), yang konon lebih patriotik. Tidak hanya mengangkat tema dan atribut dari pasukan angkatan udara di Cina, tapi Tencent pun menghilangkan konten darah di dalam gim. Uniknya lagi, pemain yang tewas tidak lagi menyisakan jasadnya namun mereka tetap dan dengan senang hati membagikan item-itemnya sembari ucapkan salam perpisahan ke pemain lain.

Sepertinya, pemerintah Cina berkeyakinan bahwa untuk mencapai suatu perubahan yang signifikan dan memberi dampak besar agar bisa menciptakan industri gim sehat perlu tindakan super-tegas dan nyata, meski terlihat kurang populis di mata gamer itu sendiri. Apalagi dengan masifnya populasi gamer di sana, publisher atau developer gim mana yang tidak rela ubah konten demi dapat raupan profit besar dari pasar gamer di Cina.

Bagaimana kalau menurut Sobat Esports, apakah tindakan pemerintah Cina ini agak berlebihan? Atau kamu menyetujuinya sebagai upaya menyehatkan industri gim secara global? Bahkan mungkin diterapkan di Indonesia pula?