LINE POD - MAVIS

Lima Momen Esports Fenomenal Satu Dekade Terakhir

Ryan Maldini
11/12/2019 10:48 WIB
Lima Momen Esports Fenomenal Satu Dekade Terakhir
Pemain dan Tim Pencetak Sejarah dalam Tren Esports Global

Beberapa tahun belakangan ini, pertumbuhan esports begitu melesat di luar perkiraan semua kalangan. Pemain dan juga tim professional gamer seakan saling berebut lapak untuk mencicipi hadiah uang dari ragam turnamen yang mulai rutin digelar hampir setiap minggunya.

Gelaran puncak kompetisi pun berlangsung di sejumlah panggung-panggung besar sebagai kebanggaan kota pelaksananya. Dari seluruh penyelenggaraannya, tidak jarang pula mencuat momen-momen luar biasa bagaimana 'keajaiban' itu terjadi pula di dunia esports. Aksi comeback, kisah sukses tim minor, rentetan kemenangan beruntun, torehan sejarah baru, momen kemenangan fantastis, semuanya akan selalu menghias kanvas esports global dari tahun ke tahun.

Nah, di antara momen-momen tersebut ada lima yang sungguh menginspirasi dan layak diketahui penikmat esports selama satu dekade terakhir (2009 - 2019)! Siapakah mereka, dan tim mana saja, yang cetak momen fenomenal di sejarah esports?

5. ASTRALIS - Peraih Trofi Intel Grand Slam Perdana di Dunia!

Dominasi tim CS:GO asal Denmark ini begitu fenomenal sepanjang dua tahun belakangan, seakan posisi Astralis di podium kehormatan sudah jaminan bagi mereka di setiap turnamen yang diikutinya. Total, dalam kurun waktu tersebut, Astralis sudah mengoleksi 15 trofi juara di berbagai turnamen, dengan pendapatan lebih dari 5 juta Dolar AS hasil kemenangan mereka. Bahkan, Astralis mengukir sejarah baru dengan memenangi tiga kejuaraan major secara berturut-turut di tahun 2018.

Tapi, momentum yang paling berkesan atau berdampak besar adalah ketika menjadi tim CS:GO pertama di dunia yang raih trofi Intel Grand Slam, sebagai pencapaian spesial ketika suatu tim mampu mengawinkan empat gelar juara beruntun dari rangkaian turnamen (total 10 turnamen) besar prakarsa oleh ESL dan Dreamhack. Astralis mampu juara di Marseille, Dallas, dan Chicago. Titel keempat seakan sudah pasti berada di tangan ketika turnamen berikutnya berlangsung di Denmark.

Didukung seluruh penonton tuan rumah, Astralis tak terhentikan bahkan oleh Team Liquid, yang notabene pesaing kuat di papan atas tim elit CS:GO dunia. Sebelum sampai final, dev1ce dan kawan-kawan hanya kehilangan dua map sepanjang turnamen, sampai akhirnya membantai Liquid (3-1) untuk menambah kocek hadiah uangnya sebesar 1 juta dolar AS. Astralis tak terbantahkan sebagai tim CS:GO terbaik sepanjang satu dekade ini.

4. TAIPEI ASSASSINS - 'Perawani' Trofi Juara Worlds 2012

Tahun 2012, gim MOBA populer di PC, yakni League of Legends, baru injak usia dua tahun resmi berkompetisi secara pro. Dan, tahun sebelumnya, gelaran kompetisi kasta puncak di LoL yang diberi nama Worlds, hanya ikutsertakan perwakilan Amerika Utara dan Eropa (belum ada server untuk region Timur).

Begitu tim-tim asal Korea mulai bermain di server sendiri, kontan peta kekuatan kompetisi LoL beralih ke negeri Ginseng, dan mulai mengikis perlawanan tim Eropa. Pembuktiannya pun terjadi di Worlds 2012, ketika benar-benar sudah cakup semua region, muncul nama tim minor bernama Taipei Assassins di tengah persaingan dua tim unggulan, Azubu Frost dan Moscow Five.

Tanpa gentar, Taipei Assassins meratakan tim-tim penghadang mereka, mulai dari Najin Sword (Korea), lalu membekuk Moscow Five (Rusia), bahkan lanjut dengan menumbangkan tim favorit lainnya, Azubu Frost (3-1). Bila ada kisah Cinderella paling fenomenal di kompetisi LoL esports, maka Taipei Assassins berhak menggondolnya.

Tak dinyana bahwa draft unik pilihan hero dan strategi permainan yang matang, sang 'pembunuh raksasa' ini mampu mengikis tiga kekuatan terbesar saat itu. Taipei Assassins juga memberi inspirasi bahwa dunia kompetisi esports memberi jalan bagi siapapun dan tim manapun untuk bisa meraih kejayaan!

3. SERRAL - Putus Dominasi Korea di SCII World Championship Series

Sampai tahun 2018, semua pemenang StarCraft II World Championship selalu dimenangkan pemain asal Korea. Mereka begitu mendominasi turnamen demi turnamen, dan memborong hampir semua gelar juara. Sementara pemain non Korea hanya kebagian untuk menjuarai turnamen-turnamen kecil, tanpa sekalipun mampu berdiri di puncak kompetisinya, Blizzcon.

Satu dekade terakhir ini, baru sosok Joona 'Serral' Sotala, pemain kelahiran dusun kecil di Finlandia yang mulai menggeluti dunia pro sejak tahun 2012 silam ini yang tampil begitu beringas di Blizzcon 2018! Kemampuannya sepanjang tahun tersebut seakan tanpa cela dengan menjuarai setiap World Championship Circuit yang diikutinya. Meski demikian, semua pihak tetap tak menggubrisnya sebagai kandidat kuat pemenang.

Voila! Serral kembali buktikan dominasinya di kejuaraan yang menjadi lahan subur bagi pemain Korea untuk mendulang trofi dalam berkompetisi StarCraft II. Tanpa sekalipun menderita kekalahan di babak grup, Serral lalu menggilas lagi dua lawannya di babak berikutnya, termasuk juara bertahan, Rogue (3-1). Hingga di partai puncak, dirinya harus meladeni Stats, yang pernah ia kalahkan sebelumnya awal tahun. Lalui pertarungan super-ketat, Serral sempurnakan rekor kemenangan beruntunnya dengan menyabet gelar juara, di saat seluruh dunia meragukan dirinya! Epic story!!

2. OG - Patahkan Kutukan dan Bikin 'Keajaiban' di DOTA 2

Sekian lama tim-tim DOTA 2 terbaik dunia bertarung demi trofi Aegis of the Champion, melalui ajang super-mewah bertajuk The International, baru OG yang mampu mencetak dua kemenangan beruntun (TI8 dan TI9) sepanjang sejarah TI sejak pertama kali digulirkan pada tahun 2011, di Jerman.

Membengkaknya total hadiah uang yang bisa dimenangkan para tea-eye winners setiap tahunnya otomatis memacu tim-tim membentuk skuad terbaik guna memperoleh hasil maksimal di ajang tahunan tersebut. Namun, di perhelatan TI8, tim ini tidak terlalu diunggulkan, bahkan condong diremehkan, sehingga jelang keikutsertaannya sejumlah pemain intinya malah 'nyeberang' ke tim lain yang lebih berpotensi.

Siapa nyana, Johan 'N0tail' Sundstein mampu buktikan bahwa racikan skuad miliknya yang lebih mengandalkan potensi individu dan kerja sama tim solid, serta hasrat besar untuk menjadi terbaik sebagai bekal performa ideal di kancah The International. Bersama Ana yang sempat menghilang lama, kemudian merekrut rookie sensasional Topson, sang penyemangat JerAx, OG meniti jalurnya ke TI sejak kualifikasi terbuka, lalu bangkit dari keterpurukan di babak grup, hingga akhirnya menembus playoff upper bracket.

Kisah perjalanan N0tail di TI8 kian dramatis ketika mereka meladeni mantan 'partner abadinya' Fly dan s4 yang sudah dicatut oleh Evil Geniuses. Puncaknya, mereka lakukan aksi comeback dramatis saat melakoni partai final melawan tim kandidat juara, PSG.LGD (3-2).

Meski sempat kehilangan Ana 'sesaat', OG kembali bertarung menembus TI9 dengan skuad sama dan seakan ingin membuktikan kemenangan mereka tahun sebelumnya bukanlah keberuntungan belaka. Hanya mampu bercokol di peringkat 12 klasemen DPC akhir, mereka jalani setiap pertandingan dengan penuh keyakinan baru, sampai pastikan lagi slot di final untuk menantang Team Liquid. Sebagaimana kita ketahui, OG menjuarai turnamen DOTA 2 dengan total hadiah terbesar sepanjang sejarah esports! Sekaligus menepis tuah kutukan juara TI, yang konon tidak akan pernah bisa tampil baik di gelaran TI berikutnya.

1. Runtuhnya Dinasti Esports Korea di League of Legends

Region Korea begitu mendominasi scene esports, khususnya untuk kompetisi gim League of Legends, hampir satu dekade lamanya sejak LoL World Championship (Worlds) pertama bergulir pada tahun 2011. Dalam 10 kali penyelenggaraan Worlds, tim Korea amat superior dengan raihan gelar juara di lima Worlds secara beruntun (2013 - 2017). Lima trofi juara tersebut dibagi oleh dua organisasi aja, yakni SK Telecom T1 (tiga gelar) dan Samsung Galaxy (White).

Entah ada angin apa yang berhembus, mulai tahun 2018, seiring menurunnya performa tim SKT Telecom T1, persaingan tim LoL dunia mulai tersebar rata sehingga mencuatkan banyak kekuatan baru. Tidak hanya dipecundangi wakil Cina di MSI, tim-tim Korea juga mulai kehilangan taji di Worlds, bahkan tim ikonik mereka SKT tak mampu menembus tiga besar di Korea.

Selama ini jadi panutan, tiga tim Korea yang tampil di Worlds seakan diberi pelajaran berarti oleh tim-tim region lain. Gen.G dipangkas dari babak grup dengan hanya tuai satu kemenangan. Tim teratas Korea yang dikirim, KT Rolster malah ditekuk Invictus Gaming. Wakil terakhir, Afreeca Freecs, juga dilucuti oleh Cloud 9. Dan, tahun tersebut menjadi kali pertama tim Korea gagal menyentuh babak final sejak mereka pertama kali gabung Worlds.

Demi memperbaikinya, sejumlah tim kuat asal Korea merombak total roster mereka, termasuk SKT meski tetap pertahankan Faker sebagai pemain kuncinya. Hasilnya sempat membaik jelang Worlds 2019, sampai ketiga tim perwakilan Korea kuasai babak grup. Di babak berikutnya, satu demi satu kembali terpuruk bahkan Griffin dan Damwon kena gasak di perempat final. SKT yang 'lolos' ke semifinal juga hanya mentok di kekuatan Eropa, G2 Esports. Meski akhirnya wakil Cina, FunPlusPhoenix yang kembali pastikan trofi juara Worlds tetap menetap di negara penyelenggara LPL.

Bila selama ini kiblat esports dunia seakan bermuara di pemain-pemain dan tim asal Korea, maka beberapa hasil turnamen di atas mulai memperlihatkan kian pesatnya perkembangan region lain untuk bersaing global. Apakah masih sempat bagi Korea membalikkan dinasti kejayaannya kembali? Atau, tim perwakilan region lain yang merintis era kebangkitan esports? Mungkinkah, dalam lima tahun lagi, posisi pemain-pemain esports Indonesia yang mendominasi peta persaingan esports global? Why not!