IES Ligagame

IOC Inginkan Gim VR Ketimbang LoL & CS:GO di Olimpiade

Ryan Maldini
16/12/2019 17:24 WIB
IOC Inginkan Gim VR Ketimbang LoL & CS:GO di Olimpiade
Masa Depan 'Suram' Bagi Fortnite, LoL, DOTA 2, dan CS:GO

Meski beberapa pendekatan untuk memperkenalkan konseptual esports sudah dilakukan, namun pihak International Olympics Committee (IOC) tetap bersikeras bahwa cabang olahraga elektronik bukanlah pilihan ideal untuk dipertandingkan dalam pesta olahraga multi-event terbesar di dunia tersebut.

Sang presiden, Thomas Bach, sendiri sudah menegaskan bahwa cabang esports tidak sesuai nilai-nilai Olimpiade, yang mana menurutnya beberapa judul gim bertemakan kekerasan dan diskriminasi. Kini, hal tersebut pun sepertinya tidak berubah, setidaknya itu yang tersimpulkan dalam hasil pertemuan terakhir antar anggota IOC, 8th Olympic Summit, Lausanne, Swiss, 7 - 8 Desember 2019.

Sebenarnya ada beberapa pemahaman baru yang 'meringankan' esports di mata para anggota IOC, namun secara eksplisit deretan judul gim seperti Fortnite, League of Legends, DOTA 2, dan CS:GO tidak memiliki masa depan di Olimpiade.

"Pertemuan kali ini melihat potensi besar akan kemungkinan gim simulasi elektronik dapat masuk dalam kegiatan olahraga," bunyi penggalan rilis resminya, DI SINI. "Banyak cabang gim ini yang perlahan mulai semakin berunsur fisik berkat adanya Virtual & Augmented Reality (VR & AR), untuk mereplikasi cabang olahraga tradisional."

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa anggota IOC tidak menyetujui esports hadir di Olimpiade dengan alasan para pelakunya lebih sering duduk saat berkompetisi ketimbang melakukan gerakan-gerakan dasar. Opsi itu pun kian kelabu begitu muncul tawaran konsep baru yang lebih menarik pada cabang gim kompetitif dengan penggunaan VR headset.

Tapi, ini juga sekaligus memperbesar peluang hadirnya cabang-cabang gim seperti FIFA, NBA 2K, dan Madden, yang meskipun tidak begitu populer dibandingkan LoL, DOTA 2, ataupun Fortnite. Sayangnya, memang belum ada yang munculkan kompetisi gim-gim tersebut dengan perangkat virtual.

Keputusan IOC untuk lebih condong memilih gim VR ketimbang esports di Olimpiade memang jadi hak mereka, namun masih ada celah-celah yang layak dipertanyakan perihal penolakan terhadap esports. Terlebih bila mereka berdasar pada opini publik yang terlanjur memberi cap gim tertentu sebagai 'killer games'.

Apalagi pandangan negatif dari sejumlah kalangan atlet lainnya yang menuding gim esports itu diskriminatif dan kerap lecehkan wanita sebagai gamer minoritas, yang mana sebenarnya tidak terbukti sama sekali di cabang-cabang esports populer.

"Kami menyimpulkan bahwa, di tahapan ini, kompetisi olahraga harus fokus pada para pemain dan gamer ketimbang judul gim yang mereka mainkan. Penekanan pada individual ini akan lebih mengangkat partisipasi orang untuk berolahraga serta mendapatkan keuntungannya atas kehidupan sehat di semua lapisan masyarakat, termasuk model perawatan kesehatan bagi seluruh pelaku esports baik itu fisik maupun kondisi mentalnya," konklusi hasil IOC - 8th Olympic Summit.

Apapun hasilnya, sebenarnya belum ketok-palu bahwa esports bakal absen di ajang Olimpiade paling dekat tahun depan, namun semacam memberi garis batas jelas bagi cabang-cabang gim yang ingin tampil di pesta olahraga tersebut. Apakah cabang esports tersebut mulai menerapkan konsep fisik melalui sinergi perangkat Virtual & Augmented Reality?

Atau lahirkan konsep permainan baru yang lebih banyak unsur seperti olahraga tradisional, dan bisa dikompetisikan secara aktif antara para gamer? Tujuannya adalah agar semua pelaku olahraga bisa tetap menjaga kesehatan fisik serta mental bertanding mereka dalam jangka waktu lebih panjang.