GoPay Campaign

20 Tahun Dinamika Esports dari Mata CEO RRQ Andrian Pauline

Rendy Lim
05/05/2020 12:16 WIB
20 Tahun Dinamika Esports dari Mata CEO RRQ Andrian Pauline
Kamu setuju dengan pak AP, Sobat Esports?

Rex Regum Qeon sudah dikenal luas sebagai salah satu tim esports terbesar tanah air. Di balik kebesaran RRQ, ada nama sang strategist bercokol di pucuk pimpinan, yakni Andrian Pauline atau akrab disapa Pak AP.

Andrian Pauline adalah salah satu pelaku esports pertama yang merasakan langsung bagaimana situasi dan kondisi kompetisi game di Indonesia. Lewat interview eksklusif kepada Esports.ID via video call, sang CEO bercerita bagaimana awal mula karirnya di industri esports dan bagaimana dinamika esports dari kacamata seorang AP.

Berikut petikan wawancara kami:

  • Bagaimana sih Pak AP memulai karir di Industri Esports dan seperti apa dinamikanya sejauh ini?
  • Jawab: Saya mulai itu dulu belum ada istilah esports, tapi lomba video game. Saya mulai di era Counter-Strike, belum ramai warnet adanya Lan Shop sekitar tahun 2000-2001. Saya dulu penikmat, pemain CS sampai akhirnya bergaul dan main dari warnet ke warnet.

Saya tertarik lihat orang main di World Cyber Games. Saya latihan dan masuk tim kedua XCN. Tapi sayangnya saya ngga masuk tim inti dan ditawari posisi manajer pertama kali. Saat jadi manajer, saya menghandle aspek bisnis dan jadwal latihan serta turut create tim DotA XCN jamannya Ritter, Lakuci dan angkatannya.

Sampai akhirnya WCG kurang menarik lagi. Sekitar 11 atau 12 kali kita selalu masuk final dan mungkin cuma 3-4 kali ngga juara. Kita jadi bingung di Indonesia ngga ada lawan lagi, di tambah viewershipnya tergerus oleh game Point Blank.

Tahun 2011, Pak Riki Suliawan mengajak saya untuk bantu dia membangun game publishing. Saat 2013, kita melihat The International DOTA 2, lalu terlintas bikin tim DOTA 2. Dari situlah awal mula line up pertama RRQ berisi Koala, Ritter dan beberapa pemain senior.

Tapi RRQ tahun 2013 sampai 2017 bisa dibilang belum jadi tim profesional, karena fundingnya masih dari kocek pribadi dan belum punya sponsorship atau branding.

Sampai di tahun 2017 saya memutuskan full-time bekerja di RRQ dan merekrut skuad Point Blank, Mobile Legends, PUBG PC meskipun turnamennya belum ada saat itu.

Namun saya melihat market esports bakal besar meski kita ngga tahu saat itu bakal seperti apa.

  • Jadi sebenarnya Pak AP itu sudah punya latar belakang manajemen esports ya?

Jawab: Kalau berbicara pendidikan akademi sih S1 saya advertising, S2 saya bisnis administrasi . Tapi saya pikir skill untuk me-manage esports itu beda. Kalau S2 yang saya pelajari itu lebih ke arah dalam lingkup corporate, tapi handle pemain itu saya dapat dari pengalaman saya sebagai pemain dulu. Jadi, yang kita manage itu manusia, bukan benda mati. Mereka punya perasaan, responsif, lingkungan sekitar mempengaruhi performa.

Hal-hal seperti itu yang membuat saya merasa punya kelebihan dibanding yang lain. Jam terbang itu sangat berpengaruh.

  • Apa kesulitan me-manage tim yang paling terngiang di awal karir sebagai manajer?

Jawab: Bayangin deh, saya manage temen-temen di XCN itu rata-rata masih SMP. Jago-jago minta ampun dan latar belakang mereka orang berada. Mobil banyak, rumah gede, bayangin deh. Orang itu tahu jago, terkenal, banyak duit, ngga perlu jadi gamer. Duit hadiah itu bertahan seminggu sudah bagus. Saya harus membuat orang seperti itu dengerin saya. Its tough! Bayangin kamu punya anak buah yang lebih pinter dan lebih kaya dari kamu, tapi mereka harus nurut ke kamu.

Buat saya, masalah yang dihadapi manajer sekarang belum ada apa-apanya.

Belum lagi jaman dulu kita tanding esports cuma dapet VGA, keyboard atau mouse. Bahkan dapet billing warnet gratis aja sudah happy banget. Beda banget sama jaman sekarang atlet-atlet sekarang nuntut ini itu ke owner esports, menurut saya mereka masih cengeng.

Tim esports itu seperti kapal, ada krunya yaitu atlet, manajemen, ownernya, kalau di tuntut-tuntut terus lama-lama tenggelam kapalnya. Harus ada simbiosis mutualisme, ngga bisa muncul cuma ingin manisnya. Seperti yang saya lihat di sosial media ada dikit-dikit berantem, saya pikir hal seperti itu terlalu manja.

Harusnya, dengan semua kemudahan di jaman sekarang, komunitasnya lebih solid.

  • Bagaimana Pak AP melihat esports di Indonesia sekarang? Apa target RRQ di masa depan?

Jawab: Menurut saya esports di Indonesia masih permulaan, esports sendiri baru booming kemarin. Kalau bicara industri, masih banyak yang perlu dibenahi. RRQ sendiri masih punya PR meskipun pemainnya bagus-bagus, juara dimana-mana. Tapi kita ingin jadi pemain esports di kancah global, tapi kita ingin menjaga akar kita di Indonesia.

  • Kalau Pak AP punya tanggung jawab untuk memajukan esports di Indonesia, langkah apa yang akan Pak AP lakukan?

Jawab: Nomer satu, infrastruktur dan komunitasnya. Mudah sekali. Tapi itu ibarat kita ingin perut six pack, kita tahu harus apa tapi ngga semua mau melakukannya. Memajukan esports itu bukan seperti bagaimana cara kita terbang ke bulan.

Kenapa infrastruktur dan komunitas? Karena banyak pemain-pemain muda di daerah, talent baru yang fresh, mereka ingin ikut membesarkan esports, tapi ngga bisa. Kenapa? Listriknya tiap 6 jam mati, internetnya nunggu subuh baru lancar. Jadi, bagaimana mau berkembang?

Itu sebabnya Lemon di awal karirnya memilih tinggal di Gaming House karena mau latihan atau main biasa aja susah. Tapi kan ngga semua orang seberuntung Lemon.

Jadi dengan menyiapkan Infrastruktur dan menguatkan komunitas, esports bisa dinikmati semua orang bukan cuma milik kota-kota besar.

Itu dia beberapa petikan wawancara dengan Andrian Pauline alias AP, CEO dari RRQ. Banyak banget pelajaran yang bisa kita pelajari dari pengalaman Pak AP. Masih penasaran dengan cerita beliau? Nantikan interview selengkapanya Esports Heroes bersama Pak AP di channel YouTube Esports.ID!