GoPay Campaign

Sepenting Apa Peran Pemain Pengganti dalam Tim Esports?

Billy Rifki
06/05/2020 10:58 WIB
Sepenting Apa Peran Pemain Pengganti dalam Tim Esports?
millenium.us.org

Dalam struktur tim esports profesional, kita mengetahui selain para atlet di tim utama, ada pula pelatih, manajer tim, owner dan yang sering terlupakan, pemain cadangan. Konsep pemain cadangan masih cukup tabu dalam esports. Biasanya, mengumpulkan 4 atau 5 pemain sudah memenuhi kuota yang pas untuk bertanding dalam sebuah turnamen. Untuk apa lagi perlu cadangan?

Berstatus pemain pengganti ada enak dan tidaknya. Misal, bisa terdaftar sebagai salah satu pemain di tim esports besar pasti membawa kebanggaan. Tapi ketika tim tersebut juara, ada saja beberapa kalangan yang bertanya fungsi dan kontribusi pemain cadangan, "enak banget cuma numpang juara!", begitu kira-kira cemooh netizen.

Lantas, apa perlunya sebuah tim esports merekrut pemain cadangan?

Kalau mengibaratkan esports layaknya olahraga tradisional atau fisik yang rentan cidera, maka eksistensi subtitusi sangat penting. Meski gamer esports punya resikonya sendiri saat bertanding, namun potensi cidera saat hari H pertandingan sangat jarang terjadi.

Dalam beberapa kasus olahraga, ada pemain cadangan yang punya spesialisasi sebagai game changer atau dikenal dengan istilah super-sub. Contohnya Ole Gunnar Solskjaer di klub sepakbola Manchester United atau Thomas Muller di Bayern Munich.

Untuk aspek strategi, mungkin saja pemain "keenam" di tim esports punya peran sebagai super-sub. Tapi seringnya pemain pengganti yang tampil lebih baik akan segera menggerus pemain lain. Proses adaptasi strategi yang cepat diperlukan karena format kompetisi esports tidak pernah berjalan lama sampai berbulan-bulan seperti liga olahraga.

Umumnya, tim esports sendiri punya peruntukan pemain pengganti yang berbeda. Beberapa tim menyediakan kapasitas lebih untuk cadangan guna pengenalan ke kompetisi utama atau regenerasi. Ada juga yang menyiapkan cadangan untuk mengistirahatkannya dengan pemain utama, hal ini cuma terjadi bila melawan pesaing yang punya kelas di bawah mereka. Contoh, di divisi Mobile Legends RRQ. LJ sempat tak dapat kesempatan main di musim MPL S4 karena masih tahap adaptasi meski ia punya reputasi cemerlang sebagai tanker. Baru di MPL S5, ia jadi tim utama dan menggeser tanker sebelumnya.

Sejatinya, di esports sendiri istilah stand-in jauh lebih familiar ketimbang cadangan. Stand-in berarti seorang pemain akan membela tim tertentu untuk waktu sementara. Biasanya, stand-in diperlukan saat suatu tim harus mengikuti turnamen di luar negeri dan terkendala dengan kebutuhan visa pada salah satu pemainnya. Akibatnya, mereka terpaksa mengganti punggawa tim inti dengan pemain lain yang tak punya masalah bepergian luar negeri. Tentu, untuk hal-hal lain penggunaan stand-in diperlukan asal tetap sesuai ketentuan turnamen.

Lalu, perlukan tim esports memiliki pemain pengganti? Bisa iya, bisa tidak. Melihat dari ragam game esports yang jadi kompetisi di Indonesia, beberapa cabang seperti Mobile Legends sudah memerlukan substitusi di luar tim inti mereka. Mengapa? Karena talenta Mobile Legends sedang pesat-pesatnya dan Indonesia termasuk negara yang disegani di permainan ini.

Begitupun untuk game seperti PUBG Mobile atau Free Fire. Memiliki setidaknya satu atau dua pemain dengan karakteristik gameplay berbeda dapat memperluas kekayaan strategi ketika menghadapi lawan. Namun, bila game yang mereka geluti cenderung mandeg di persaingan domestik, mempertahankan formasi hanya tim inti lebih baik guna memperkaya jam terbang.

Bagaimana menurut Sobat Esports, apakah pemain cadangan itu diperlukan dalam tim esports?