GoPay Campaign

Peneliti Oxford Temukan Manfaat Main Game Untuk Kesehatan Mental

Billy Rifki
20/11/2020 17:56 WIB
Peneliti Oxford Temukan Manfaat Main Game Untuk Kesehatan Mental
esports.com

Masih banyak pihak yang beranggapan bermain game adalah kontradiksi dari hidup sehat. Apalagi dengan popularitas esports, seakan banyak pemuda yang mendapat pembenaran kalau mau jadi atlet esports harus menforsir fisik dan mental untuk latihan berjam-jam setiap hari. Tak heran, kalau ada orangtua atau sebagian masyarakat yang menilai negatif main game karena bisa merusak secara fisik maupun mental.

Namun, berdasarkan penelitian baru yang dilakukan di Oxford ditemukan kalau bermain game malah punya dampak baik untuk kesehatan mental. Pemimpin studi Professor Andrew Pryzbylski mengatakan, "Penemuan kami menunjukan kalau bermain video game tidak serta merta berdampak buruk untuk kesehatan, ada faktor psikologis lainnya yang punya efek signifikan kepada kondisi seseorang."

Indonesia Gaming Award

Ia menambahkan bahkan bermain game merupakan aktivitas positif untuk meningkatkan kualitas mental sesorang, sebaliknya, melakukan pembatasan atau terlalu mengatur kegiatan tersebut bisa menghambat manfaat bermain game. Untuk mengumpulkan data yang ia perlukan, Professor Andrew menggunakan waktu bermain sebenarnya dan data industri dari game seperti Animal Crossing: New Horizons dan Plants vs Zombies.

Mereka mendesign survey guna memantau kondisi sampel atau pemain, durasi waktu yang mereka habiskan untuk bermain game dan alasan mereka bermain game. Ada sebanyak 3247 pemain berpartisipasi mengikuti penelitian ini. Berdasarkan hasil studi lain, tes FMRI menunjukan kalau main game mengaktifkan bagian amigdala dalam otak yang berfungsi untuk merespon rasa takut dan emosi negatif. Ketika seseorang main game, amiglade menunjukan sikap lebih tenang sehingga dapat disimpulkan kalau game adalah kegiatan yang ampuh untuk membuang dan menekan perasaan negatif seseorang.

Meskipun sudah ada temuan yang menguatkan dampak positif bermain game, namun hasil ini belum bisa digeneralisasi kepada jenis game lain. Selain variabel game, faktor eksternal seperti tekanan dari profesi seorang atlet esports ketika bermain di turnamen pasti berdampak berbeda dengan pemain casual. Penelitian ini masih dilanjutkan dengan meminta data yang sesuai untuk kondisi tersebut sehingga hasilnya bisa lebih komprehensif.