Esports.ID

Ragukan Masa Depan Battle Royale di Esports, Tim Luar Tutup Divisi PUBG

Billy
07/01/2019 11:42 WIB
Ragukan Masa Depan Battle Royale di Esports, Tim Luar Tutup Divisi PUBG
Esports.ID, FOX Esports Asia

Antusias dan popularitas PUBG sebagai genre game kompeitif yang baru tak serta merta melanggengkan titel ini menjadi "esports ready".

Walau secara kasat mata, permainannya yang cukup sederhana ini sangat mungkin untuk dijadikan sebuah kompetisi besar, namun faktanya di lapangan menunjukkan bahwa banyak organisasi yang membubarkan divisi PUBG mereka akibat ragu dengan masa depan esports dari suatu genre Battle Royale.

Paling anyar tentunya adalah tim asal Seattle, Amerika Serikat, Excelerate Gaming.  Pembubaran roster mereka berselang tak jauh dari National PUBG League yang direncanakan kick off bulan ini. Kejadian ini menyusul keputusan dari dua organisasi ternama lainnya di Amerika Serikat, yakni Optic Gaming dan Evil Geniuses yang sudah lebih dulu "mematikan" divisi PUBG mereka.

Optic telah resmi meniadakan divisi PUBG sejak Desember 2018 lalu karena ragu atas masa depan PUBG sebagai esports. Sang CEO, Hector "H3CZ" Rodriguez, berkata, "Kabar bahwa National PUBG League akan bergulir pada bulan mendatang, itu mengharuskan kita fokus pada titel tersebut dan arah yang dituju pada masa depan, membuat kami mempertanyakan keyakinan kami atas game tersebut sebagai sebuah kompetisi, sekaligus juga format dan struktur liga itu sendiri."

Hector merasa PUBG akan berakhir seperti H1Z1 yang gagal menjadi sebuah esports karena minim minat dan profesionalisme. Hal yang sejatinya tidak menjadi masalah karena PUBG sangat populer. Namun, PUBG juga membutuhkan banyak sumber daya misalnya untuk menghelat turnamen LAN, atau secara genre sendiri PUBG tak sepenuhnya berbicara skill.

Ada hal random dan keberuntungan yang bermain seperti faktor respawn senjata yang selalu berbeda di tiap pertandingan. Hal ini secara tolak ukur esports yang harus adil antar pemain seakan tidak diindahkan sehingga bisa jadi tim tertentu memiliki persenjataan lebih baik di awal, dan pertandingan pun jadi berat sebelah sejak permainan dimulai. 

Meski, tentu saja, skill menembak secara akurat adalah sesuatu yang bisa diadu dan dilatih, namun selama faktor luck mempengaruhi jlalannya pertandingan, maka banyak investor yang tidak yakin untuk bertaruh di genre battle royale. Berbeda dengan genre shooter biasa seperti CS:GO atau mungkin Overwatch yang tiap map bisa dipelajari, tim selalu mulai di tempat yang sama dan memiliki persenjataan yang berbeda tergantung situasi serta kondisi akibat permainan, bukan karena muncul begitu saja.

Mungkin di Indonesia, hal tersebut tidak berlaku terutama gamer tanah air yang memiliki cara sendiri untuk populerkan mobile gaming. Kalau PUBG PC mengalami kesulitan, mungkin versi mobile-nya masih bisa menemukan jalannya menjadi titel esports yang sukses!