5 Hal yang Mesti Orang tua Tahu Kalau Punya Anak Pemain Esports

Billy Rifki
11/02/2021 12:04 WIB
5 Hal yang Mesti Orang tua Tahu Kalau Punya Anak Pemain Esports
verizon.com

Memperkenalkan esports kepada orangtua kerap jadi kendala gamer menekuni karirnya sebagai profesional. Banyak yang sembunyi-sembunyi ketika berlatih ikut turnamen, atau sampai berhenti karena orangtua tidak setuju dengan pilihan anaknya menjadi atlet esports.

Namun, apabila kamu adalah orangtua yang menyadari kalau anak anda memiliki minat dan bakat yang besar dalam gaming kompetitif, berikut adalah 5 hal yang mesti kamu tahu tentang esports agar anak anda mendapat support system yang baik.

Yamisok Nobar

- ESPORTS TEMPAT SOSIALISASI DAN PENGEMBANGAN KARAKTER ANAK

Berbeda dengan game biasa, esports sangat mengedepankan komunikasi, interaksi dengan orang lain lewat jaringan digital. Game esports butuh kerjasama yang cuma bisa muncul bila antar pemain memiliki sikap saling pengertian dan visi yang sama dalam bermain.

Untuk itu, banyak anak yang terlihat pemalu menggunakan esports sebagai sarana ekspresi diri. Esports juga melatih dan mengembangkan karakter seseorang lewat cara dia tergabung dalam suatu tim. Apakah anak anda sosok yang piawai memecahkan masalah, punya jiwa pemimpin atau orang yang bisa berkordinasi dengan baik dengan rekan satu timnya?

Meski yang anda lihat adalah anak anda cuma asik di kamar sendirian dan teriak sendiri, dengan dukungan yang tepat, esports bisa mengajarkan anak anda cara untuk menghadapi dunia nyata dengan lebih berani nantinya.

- BAKAT SAJA TIDAK CUKUP, ESPORTS BUTUH LATIHAN

Ketika orangtua melihat anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer atau perangkat mobile, untuk gamer yang berniat menjadi atlet esports hal itu adalah kewajiban. Skill dilatih agar lebih tajam dengan bermain dan latihan terus menerus.

Banyak atlet profesional yang sudah berhasil masuk ke tim esports melatih kemampuannya dengan bermain 10-12 jam perhari, beberapa bahkan lebih dari itu. Apa yang harus dilakukan orangtua sebaiknya tidak membatasi namun mengarahkan, mengingatkan kapan waktu berhenti dan waktu sang anak harus menyelesaikan kewajiban lain.

Peribahasa "bisa karena terbiasa" berlaku untuk atlet esports, meski bakat berpengaruh sedikit dalam kemampuan sang anak memahami aspek permainan lebih baik atau lebih cepat ketimbang gamer lainnya.

- ESPORTS ADALAH INDUSTRI BESAR

Mungkin, banyak orangtua yang bertanya masa depan bermain game itu seperti apa? Ketidaktahuan mereka terhadap industri esports yang jadi alasan mereka untuk melarang anak bermain game. Padahal, Esports adalah bisnis bernilai ratusan juta USD, atlet esports yang berhasil mendapatkan tunjangan dan asuransi kesehatan layaknya pekerja biasa, bahkan gaji mereka bisa setara dengan pegawai pemerintahan atau pejabat profesi yang diidam-idamkan oleh banyak orangtua.

Tiap tahunnya, berbagai turnamen esports ditonton lebih dari 500 juta orang dari seluruh dunia. Apalagi di era pandemi, esports adalah satu-satunya olahraga yang masih bisa berjalan karena bisa beradaptasi dengan sosial distancing. Penghasilan atlet esports tak cuma datang dari gaji bulanan atau bonus turnamen. Akun-akun sosial media mereka menjadi kerjaan sampingan yang tak kalah memuaskan.

Gamer terkenal bisa beriklan atau endorse produk tertentu, melakukan livestreaming dan tentunya, keuntungan dari uang esports bisa mereka jadikan investasi dengan arahan dari orangtua yang peduli.

- ATLET ESPORTS BISA CEDERA

Layaknya olahraga biasa, esports juga aktivitas yang punya resiko. Meski terlihat remeh, bermain game dalam durasi panjang, berhar-hari selama bertahun-tahun punya efek buruk. Beberapa atlet esports ada yang pensiun di usia muda, karena motivasi yang hilang, tubuh dan pikiran yang melemah akibat memforsir diri.

Esports juga menuntut kordinasi antara mata, tangan, dan pikiran untuk bergerak cepat dalam hitungan sepersekian detik, hal itu dilakukan secara kontinyu hampir setiap hari-harinya. Lama-lama, refleks dari pemain akan melambat, mata bisa berkunang-kunang bahkan kemampuan penglihatan menurun. Ada juga yang mengalami cedera di bagian pergelangan tangan, jari, punggung, leher dan kepala.

Semua bisa dicegah bila orangtua mengingatkan sang anak untuk menjaga gaya hidup sehat, setidaknya membantu sang anak memiliki karir esports yang lebih panjang dibandingkan gamer lain yang kurang sadar dengan kondisi fisiknya.

- DUKUNGAN ORANGTUA PENTING UNTUK KEPERCAYAAN DIRI ANAK

Tidak banyak orangtua yang memahami karir esports. Beberapa atlet esports terang-terangan kalau mereka pernah ditentang orangtua sampai harus berbohong demi mengejar cita-cita mereka. Ada juga orangtua yang sangat mendukung minat tersebut.

Esports adalah ladang orang untuk mencari jati diri sebagai yang terbaik. Hal itu butuh kepercayaan diri dan banyak gamer yang langsung down ketika menerima kekalahan. Orangtua berperan menguatkan kepercayaan diri dan motivasi sang anak. Sekedar menemani ke lokasi turnamen, datang menonton pertandingan, menyaksikan kompetisi esports bersama-sama membuat sang anak lebih percaya diri kalau ada orang terdekatnya yang percaya ia bisa berhasil di industri esports.

Hal ini juga mendekatkan hubungan antara orangtua dan anak sehingga meminimalisir kemungkinan anak menyimpang dalam pilihan karir atau gaya hidup yang salah ketika jauh dari orangtua.

Itu dia beberapa hal yang mesti orangtua tahu tentang esports. Kalian bisa meminta orangtua kalian membaca artikel ini atau menerapkan perilaku di atas kepada anak kalian nantinya. Tetap berusaha dan semangat ya Sobat Esports!