Esports

Mia Stellberg: Bangun Mental Juara, Pentingnya Peran Psikolog

Billy Rifki
11/11/2017 15:28 WIB
Mia Stellberg: Bangun Mental Juara, Pentingnya Peran Psikolog
google, reddit

Perkembangan eSports di tingkat profesional makin hari semakin kompleks. Agar bisa bersaing secara maksimal, para pemain dan organisasi eSports mulai melirik berbagai cara untuk meningkatkan level permainan mereka. Beberapa contohnya adalah menghadirkan sosok pelatih, analis, dokter spesialis, dan yang tak kalah penting, seorang psikolog.

Dalam banyak cabang olahraga, aspek fisik tidak selalu menjadi penentu dalam memenangkan kejuaraan. Namun faktor mental seringkali menjadi pembeda di momen-momen krusial terutama karena tekanan yang ditanggung para atlet acap kali mempengaruhi performa mereka. Disitulah peran dari seorang psikolog eSports, yang bertugas untuk membangun mental juara melalui metode-metode serta disiplin agar sang atlet bisa tampil lebih baik.

Salah satu psikolog yang terbukti sukses dalam dunia eSports adalah Mia Stellberg. Dirinya bekerja sebagai psikolog untuk tim CS:GO asal Denmark, Astralis. Uniknya, wanita cantik ini memiliki latar belakang sebagai model sebelum memutuskan untuk bekerja sebagai psikolog. Di usia 16 tahun, Mia sempat berpose untuk brand Dior dan Cosmopolitan di Paris. Mia mengakui kehidupan modeling sangat membantu dalam bekerja sebagai psikolog. Tekanan yang dialami seorang atlet menurutnya tidak jauh berbeda dengan tekanan  seorang model yang harus terbang sebanyak 200 kali dalam setahun di usia belia.

Selang beberapa tahun, Mia baru memutuskan untuk mengejar mimpinya untuk menjadi dokter atau psikolog. Beruntung, dia berhasil menjadi psikolog dan mendapatkan kesempatan untuk berperan banyak dalam bidang pekerjaan yang digelutinya sekarang. Kepribadiaannya yang positif dan percaya diri membuatnya yakin bahwa dia mampu memberi pengaruh lebih kepada orang lain sebagai psikolog.

Butuh waktu kurang dari 3 tahun untuk Mia bisa menyelesaikan studi di Universitas Helsinki. Mia memiliki track-record yang cukup mentereng sebelum bekerja untuk Astralis. Dia sempat menjadi psikolog untuk tim nasional hoki Finlandia dan beberapa atlet olimpiade. Awalnya, tim Astralis mendekati Mia untuk mencarikan psikolog lain yang sesuai, namun akhirnya malah dia sendiri yang membantu Astralis menjadi salah satu tim CS:GO terbaik dunia.

Sebelum kedatangan Mia, Astralis merupakan tim penantang yang disegani, namun selalu gagal menembus babak final. Memiliki kebiasaan untuk 'runtuh' dalam situasi penuh tekanan tinggi, mereka terus menemui kegagalan sejak 2013. Bahkan tim ini hampir bubar beberapa bulan sebelum mengikuti ELeague Major, kejuaraan yang nantinya mengharumkan nama Astralis.

Demi memperbaiki performa mereka, Astralis memutuskan menggunakan seorang psikolog untuk membantu menguatkan mental mereka. Sejak pertemuan Astralis dengan Mia, sang psikolog langsung mengatakan bahwa Astralis bisa menjadi tim top dunia dalam waktu 2 - 3 bulan. “Tidaklah sukit untuk menjadi nomer 1 dunia, yang sulit adalah bertahan untuk tetap di puncak,” tutur Mia. Tentu saja hal ini tidak langsung diyakini oleh Astralis yang saat itu mengatakan bahwa tingkat persaingan CS:GO sangat ketat dan sulit sekali untuk menjadi tim terbaik apalagi dalam keadaan mental terguncang.

Mia membuktikan ucapannya dengan langsung mengevaluasi tiap member Astralis secara personal, memberikan pendekatan individu yang berbeda untuk mengetahui masalah dari dalam maupun luar game, mengatasi kelemahan, kemudian meningkatkan nilai tambah mereka dalam game sekaligus menguatkan rasa percaya diri mereka sebagai tim.

Mia memantau kegiatan Astralis tiap hari untuk memastikan mereka berjalan di arah yang tepat. Member Astralis diberikan metode-metode sebagai panduan gaya hidup layaknya seorang atlet profesional agar mereka tetap fit sehingga bisa tampil seoptimal mungkin. Hasilnya, Astralis berhasil menembus babak final di kejuaraan ELeague Major pada Januari 2017 dan mematahkan kutukan dengan mengalahkan Virtus Pro di babak final.

Mia menyarankan pada tiap atlet eSports untuk menjaga kesehatan fisik dan mental mereka, bila ingin memiliki karir yang panjang di dunia eSports. Menurutnya, kebanyakan atlet eSports masih berusia muda dan akan cepat sekali terkuras secara fisik, pikiran, dan mental. Akibatnya, banyak diantaranya yang berhenti bermain di usia-usia produktif (24-29 tahun).

Astralis dan Mia menambah kesuksesan mereka dengan mengikuti dua kejuaraan besar selepas keberhasilan ELeague mereka, yaitu di Amerika (ELEAGUE Clash for Cash) dan Katowice (IEM Katowice 2017). Keduanya berhasil dimenangkan oleh Astralis.

Nah, kamu sudah mendengarkan nasihat psikolog nan cantik, Mia Stellberg, bahwa kita harus bisa disiplin dan memiliki gaya hidup yang sehat tak peduli pekerjaan apapun yang kita geluti untuk bisa sukses. Makasih mbak Mia, mungkin tertarik melatih mental tim-tim eSports di Indonesia? ^_^