Esports sudah jadi fenomena budaya terbaru di abad milenial, tak terkecuali Indonesia. Meski begitu, perkembangan eSports nasional masih terbilang muda dan belum begitu solid. Dengan mimpi untuk menjadikan eSports sebagai jenis olahraga masa kini, beberapa bahkan percaya dengan masa depannya sebagai karir. Jadi tak ada salahnya melihat perkembangan eSports di salah satu negara pionir digital sports dunia : Swedia.

Negara yang masuk dalam wilayah Skandinavia ini cuma memiliki populasi sebanyak 10 jutaan jiwa berdasarkan data dari World Bank, namun bila kita rajin mengikuti ajang-ajang eSports diseluruh dunia selalu ada perwakilan dari Swedia dan prestasi mereka tidaklah medioker. Apa yang menyebabkan eSports Swedia lebih maju dalam hal prestasi, dukungan terutama minat dari para pemudanya untuk terjun ke dunia eSports? Setidaknya ada lima alasan yakni :
1. Budaya Bermain Game yang Kuat dan Mengakar
Sekilas memang menyentil gemar tidaknya main game, anak-anak Indonesia pun sering, namun seberapa mainstream kita memainkannya adalah hal berbeda. Saat ini, eSports telah menjadi bisnis yang meledak bahkan sejak tahun 1990an, pemain Swedia telah berpartisipasi dalam turnamen Quake tingkat dunia dengan mengirimkan Oskar "LakermaN" Ljungstörm yang digadang-gadang sebagai pemain Quake terbaik.
Di cabang Counter Strike ada Emil "HeatoN" Christensen yang kini berusia 34 tahun juga dikenal sebagai salah satu pemain CS terbaik sepanjang masa. Ia lekat dengan brand Ninjas In Pyjamas karena ia adalah mantan kapten yang sekarang menjadi manajer tim Swedia tersebut.
Prestasi yang sudah bersinar di jaman-jaman tersebut harus di lihat dari proses tahun-tahun sebelumnya yang berarti pemuda-pemuda Swedia sudah banyak bergelut di level kompetisi tertinggi dunia. Tak ayal, pemerintah sana tampak mendukung kinerja dari para player dengan infrastruktur yang memadai seperti koneksi internet yang paling gahar saat itu dibandingkan negara-negara lainnya.
Di tahun 1900, Swedia sudah memiliki jaringan telpon lebih banyak dari London maupun Berlin. Pada tahun 2001, pemerintah punya program untuk mengkoneksikan 9 juta penduduk Swedia dengan internet di tambah memberikan keluarga-keluarga disana desktop computer yang terbebas dari pajak. Artinya akses ke teknologi sangat terjangkau sehingga semua kalangan bisa menikmati. Jadi tak aneh bila pemuda-pemuda Swedia sudah bisa mengakses game dan bermain genre "eSports" sejak dini, tentunya diiringi dengan edukasi memadai dan gratis disana.
2. Banyak Pemain Profesional yang Berhasil dan Jadi Idola
Selain dua pemain yang di atas, tentu dari cabang lainnya kita masih mengenal pemain Swedia dengan reputasi disegani seperti pilar juara The International 3, The Alliance yang terdiri dari barisan pemain Swedia mulai dari Jonathan "Loda" Berg sampai Gustav "s4" Magnusson. Dibelahan dunia lain ada nama Johan "PieLieDie" Aström yang bermain untuk Fnatic.
Akar FPS Swedia lahirkan tak cuma satu legenda CS tapi ada beberapa lagi misalnya Patrik "f0rest" Lindberg, yang kala membela Fnatic di medio 2006-2010 mencetak rekor sebagai tim dengan pendapatan turnamen terbanyak berkat penampilan dominan mereka di banyak kejuaraan. Tak cuma cowok loh, gamer cewek dari Swedia juga punya reputasi seperti Zainab "zAAz" Turkie dikancah CS:GO. Jadi muda-mudi Swedia punya banyak panutan untuk mereka tiru bahkan lampaui prestasinya dengan gejolak eSports yang makin tahun makin meroket.