Menakar Peluang OG di The International 10, Mampukah Juara Tiga Kali?

Billy Rifki
06/10/2021 16:49 WIB
Menakar Peluang OG di The International 10, Mampukah Juara Tiga Kali?
dotabuff, twitter

The International 10 DOTA 2 sudah di depan mata. Laga perdana turnamen esports dengan prize pool terbesar di dunia akan dimulai besok dengan Evil Geniuses dan Team Aster match pembuka. Salah satu momen paling dinantikan dalam ajang ini adalah kiprah sang juara bertahan OG, pemegang rekor dua kali mengangkat trofi Aegis of Champion sekaligus tim pertama yang berhasil melakukannya secara berturut-turut.

Kehadiran OG di TI10 kali ini ibarat kilas balik perjalanan mereka pada TI sebelumnya. Musim kompetisi yang biasa-biasa saja, harus lolos TI lewat open qualifier, OG juga kehilangan pilar andalan mereka, Ana yang cuma bergabung selama dua bulan kemudian pensiun lagi. Lalu, apakah skuad OG kali ini bisa memenangkan The International ketiga mereka?

Yamisok Nobar

PROBLEMA LEBIH BERAT

Skuad OG memang sudah lengkap di The International 10 dengan kembalinya Ceb usai mengalami pemulihan dari cidera di matanya. Namun, dampak setelah operasi tersebut belum diketahui apalagi OG akan bertanding secara intens di The International. Tak menutup kemungkinan masalah mata Ceb kambuh di tengah turnamen sehingga OG harus bermain dengan pengganti.

Selain itu, OG harus memastikan gameplay mereka sudah nyetel dengan Sumail. Meski merupakan pemain berbakat, Sumail punya gaya main berbeda dengan Ana saat bertransisi dari mid player ke carry. Hero pool Sumail juga tak bisa disamakan dengan anak ajaib tersebut walau keduanya juga punya cerita yang sama, yaitu pemain midlane jadi position 1.

Sumail lebih pas menggunakan hero hard carry klasik seperti Drow Ranger, Medusa dan Terrorblade. Hero lain yang bisa Sumail gunakan layaknya Ana adalah Ember Spirit. Baik Ana dan Sumail punya win rate cukup tinggi sekitar 60% ketika menggunakan Ember Spirit. Alternatif hero carry Sumail adalah Alchemist dan Sven yang cenderung kurang ideal digunakan oleh tim barbar seperti OG. Bila dibandingkan Ana, pemuda Australia ini punya mekanik tinggi saat laning dan kerap melakukan inovasi gila seperti di The International 2019 sementara Sumail sangat fokus dengan objektif dan lebih rajin ikut teamfight karena panggilan jiwa midlaner-nya.

Namun, OG punya keuntungan dengan Sumail. Beberapa hero midlane kini sering dijadikan pos 1 seperti Leshrac dan Templar Assassin. Kedua hero ini layak dijadikan prioritas oleh OG kalau ingin menjaga ciri khas agresif mereka yang gemar menabrak ke dalam pertahanan musuh.

MOMEN PEMBUKTIAN SAKSA

Dari semua pemain OG saat ini, cuma Saksa yang belum punya titel juara TI. Ia hampir memenangkan Aegis of Champion bersama Digital Chaos di tahun 2016. Beban Saksa cukup berat karena menggantikan Jerax yang disebut sebagai pos 4 terbaik di dunia. Soal kreatifitas dan mekanik, Jerax dan Saksa sebenarnya sama bagus. Yang membedakan adalah gameplay kedua pemain cukup berbeda.

Jerak adalah pemain yang aktif melakukan rotasi, sementara Saksa merupakan pemain support 4 yang lebih greed dalam farming. Ambil contoh hero andalannya di The International 6, Keeper of the Light. Hero ini punya fungsi clear wave yang tinggi namun kurang mobilitas. Dibandingkan dengan Earth Spirit Jerax yang sejauh ini mencatatkan 69% win rate dari 133 kali pick, jelas ada perbedaan gaya main antara kedua pemain meski Saksa telah membuktikan piawai juga bermain aktif dengan hero macam Tuskar, Lion dan Shadow Demon.

Namun, masih banyak orang yang merasa Saksa belum bisa menambal lubang yang ditinggal Jerax, maka dari itu, TI10 nanti akan jadi pembuktian apakah Saksa bisa membuat OG superior kembali di The International 10.

TEKAD 100% WIN RATE THE INTERNATIONAL TOPSON

Sebelum TI10 dimulai, Topson sudah menyuarakan kegelisahannya untuk berhenti secara kompetitif. Namun, ia memutuskan untuk kembali di tahun ketiga. Tentu, uang tak pernah jadi motivasi utama Topson sebagai pemain. Sedari awal, ia ingin membuktikan kalau ia adalah pemain terbaik dan saat ini adalah momen tepat untuk mempertahankan status tersebut.

Ada rekor 100% menang T! yang harus Topson jaga. Pencapaian ini bukan hal mudah karena baru dirinya yang berhasil mencetak rekor tersebut. Tapi tetap saja OG selalu dianggap remeh oleh banyak orang, apalagi performa mereka yang goyah di musim DPC. Harusnya, motivasi ini cukup buat Topson menunjukan aksi-aksi gilanya untuk membungkam suara sumbang dan membawa OG memenangkan The International 10 untuk kali ketiga

Apakah menurut kalian OG bisa menjadi juara The International untuk ketiga kalinya?1