Cina Blokir Steam Community, Perpanjang Derita Gamer di Negeri Tirai Bambu

Billy Rifki
21/12/2017 15:24 WIB
Cina Blokir Steam Community, Perpanjang Derita Gamer di Negeri Tirai Bambu
Google Images

Efektif sejak tanggal 15 Desember 2017, ternyata pemerintah Cina telah memblokir sebagian fitur di Steam, salah satunya adalah Steam Community yang merupakan wadah bagi pemain untuk saling berbagi informasi, diskusi, dan aktivitas bersama para gamer. Meskipun beberapa fitur masih bekerja secara normal seperti Store, namun secara keseluruhan, berdasarkan Greatfire.Org, situs yang mengawasi sensor online di sana, hingga 96% pelayanan steam di Cina telah di-ban.

Yamisok Nobar

Belum diketahui penyebab pasti dari pelarangan ini, namun beberapa rumor menyebutkan bahwa salah satu ciutan pada steam community mungkin jadi penyebabnya. Konten dari ciutan tersebut diduga berseberangan dengan keinginan pihak berwenang di Cina dan mengakibatkan pelarangan terhadap steam community. Namun keterangan resminya sendiri belum terungkap.

Pihak Cina telah melakukan banyak pelarangan dan kasus ini bukan yang pertama terjadi. Sebelumnya PUBG sempat berhadapan dengan ancaman ban di Cina, hal ini bisa jadi dipicu kepopuleran PUBG di sana. Namun Tencent selaku pengembang game asal Cina memberi 'ruang' bagi PUBG untuk bisa diakses di Cina melalui perjanjian kerjasama kedua pihak.  Pola seperti ini seringkali menimbulkan opini bahwa pelarangan steam hanya akal-akalan bisnis dari pihak berwenang di Cina untuk memastikan bisnis dalam negeri lebih unggul.

Bukan cuma steam community dan PUBG, jauh sebelumnya pemerintah telah melayangkan ban untuk console game di tahun 2000, dan baru diangkat 14 tahun setelahnya. Ironisnya konsol semacam Wii, PS3, Xbox 360 adalah buatan Cina. Alasannya adalah pemerintah Cina mencoba melindungi generasi muda dari aktivitas yang bisa menyia-nyiakan masa muda mereka. Kenyataannya game online malah makin meledak dan produk-produk orisinal dari produsen konsol seperti Sony dan Nintendo mendapati perusahaan Cina meniru karya mereka menggandeng nama macam 'Vii' dan 'Fuze'.

Tidak cuma berhubungan dengan game, sikap protektif dari pemerintah Cina juga bahkan melarang beberapa media sosial seperti Facebook dan Twitter, termasuk Google. Khusus untuk prajurit militer, sejak 2010, mereka dilarang menggunakan internet untuk tujuan apapun seperti mencari kerja, membuka situs berita, dan mencari pasangan. Hal ini untuk mencegah terjadinya kebocoran rahasia militer ke masyarakat umum. Pelarangan juga menimpa artis macam Brad Pitt, Harrison Ford, dan Richard Gere terkait dukungan mereka terhadap Tibet dalam film yang mereka perankan.

Begitu juga buku cerita seperti Alice in Wonderland yang dilarang karena menggambarkan binatang yang mampu berbicara, di mana pemerintah Cina menganggap hal itu pelecehan karena binatang yang berbicara merendahkan derajat manusia. Atau buku Green Eggs and Ham karya Dr. Seuss yang diimplikasikan sarat dengan nilai-nilai Marxisme yakni kesetaraan atau ketiadaan kelas-kelas sosial dalam masyarakat.