Pantang Menyerah, Sosok Gamer Disabilitas dengan Skill Mumpuni

Billy Rifki
09/01/2018 15:27 WIB
Pantang Menyerah, Sosok Gamer Disabilitas dengan Skill Mumpuni

Dibalik hingar-bingar eSports, tersimpan kisah pilu bagi sebagian pemain yang menjadi tokoh utama dalam perjalanan profesional mereka. Ada yang mengalami cidera serius dan ada yang harus bersaing walau terkendala disablilitas. Namun hasrat besar mereka untuk bermain game dan menjadi profesional gamer telah sisihkan nasib naas yang mereka alami. Sangat layak untuk diteladani bagaimana perjuangan mereka! Siapa saja yang termasuk gamer-gamer bermental baja tersebut?

Yamisok Nobar

1. Clint “Halfcoordinated” Lexa

Gamer satu ini menderita penyakit Hemiparesis, atau situasi kelumpuhan pada satu sisi bagian tubuh. Pada Clint, bagian tubuh sebelah kanannya yang terjangkit penyakit ini. Berbeda dengan lumpuh total, Clint masih bisa menggerakkan bagian tubuh sebelah kanannya walau sangat terbatas dan cenderung lemah. Penyakit ini sudah dideritanya sejak lahir akibat kelainan dari sensor motoriknya. Dampaknya, kordinasi dan kendali tubuh di bagian kanannya melemah. Selama ini, dia bermain dengan satu tangan untuk menekuni bidang Speedrunner.

Serupa tapi tak sama dengan esports, Speedrunner adalah suatu kegiatan bermain game dengan konsep menyelesaikan/menamatkan satu titel permainan tertentu secepat mungkin. Namun bisa saja speedrun dipertandingkan pada sebagian level saja. Konsep bermain seperti ini lebih cocok pada jenis game RPG atau adventure yang memiliki elemen puzzle dan tantangan rumit.

Halfcoordinated sudah langganan tampil di berbagai ajang speedrunner, salah satunya Summer Games Done Quick, sebuah ajang amal yang telah berlangsung selama 7 tahun dengan tujuan menggalang dana untuk organisasi kesehatan seperti Doctors Without Borders dan Prevent Cancer Foundation. Di tahun 2015, dia berhasil menyelesaikan game Vanquish, dilanjutkan dengan Transformers: Devastation pada tahun 2016 dalam waktu 44 menit 53 detik. Di event tahun 2017, Halfcoordinated mampu selesaikan game Nier: Automata hanya dalam waktu 1 jam 43 menit dan 5 detik. Kereeennn….

2. Adam “Loop” Bahriz

Kamu harus bersyukur kalau dilahirkan tanpa kekurangan fisik apapun dengan semua anggota tubuh lengkap dan berfungsi normal. Bayangkan hidup seperti teman gamer kita yang bernama Adam “Loop“ Bahriz, remaja berumur 17 tahun ini mengalami Hereditary Sensory and Auditory Neuropathy. Penyakit ini merusak cara kerja saraf dan sistemnya.

Namun, dampak dari HSAN berbeda-beda pada tiap penderitanya. Loop mengalami masalah pada penglihatan dan pendengaran meski ia tidak benar-benar buta atau tuli dan harus hidup tanpa gigi. Ada juga orang yang terlihat normal namun mudah cidera pada bagian tubuhnya. Penyakit ini membuat penderitanya lebih rentan terhadap cidera atau situasi yang lebih buruk karena sang penderita seringkali tidak merasakan sakit padahal hal inilah yang membuat situasinya makin berbahaya.

Loop adalah gamer yang menyukai Counter Strike : Global Offensive dan ia haru bermain dengan melihat layar monitornya dalam jarak yang sangat dekat. Akibat tidak mampu berbicara secara sempurna, tak jarang dia juga alami perundungan dari gamer lain. Loop menyadari kondisinya mungkin bisa merugikan tim terutama di aspek komunikasi, namun Loop terbiasa untuk memberitahukan kondisinya sebelum pertandingan dimulai. Tapi ada saja orang yang acuh dan menganggap pernyataan Loop hanya lelucon. Hal ini kadang memicu kekecewaan berat dalam diri Loop.

Sebagai gamer, permainan Loop sebenarnya cukup hebat berdasarkan video sebelumnya, kamu bisa melihat bagaimana Loop dengan tenang menghindari flashbang lawan dan masuk sendirian untuk menghabisi musuh yang ada disekelilingnya.

3. Michael “Handi" Olson

Berbeda dengan Loop yang terganggu secara audio visual, Handi adalah gamer yang tak memiliki tangan dan kaki namun bermain sangat baik dalam CS:GO. Pemuda 27 tahun yang berasal dari California ini sudah kehilangan tangan dan kaki sejak kecil. Dalam bermain, dia menggunakan bagian wajahnya seperti hidung.

Tapi jangan mengira Handi sebagai pemain medioker, karena kenyataanya ia mampu bermain CS:GO sangat baik. Bahkan rutin memenangkan kejuaran lokal di California sejak tahun 2001. Handi juga terkenal dengan permainan AWP-nya yang sangat akurat dan membuat banyak orang berdecak kagum. Handi bermain dengan cara menempatkan bahu kirinya ke arah keyboard dan bahu kanannya di mouse. Agar lebih mudah, mouse-nya juga dilengkapi bahan karet agar tidak selip dari 'cengkraman' bahunya.

Sebagai salah satu sosok gamer yang menginspirasi, Handi seringkali mendapatkan undangan sebagai pemberi motivasi dan pengembang aplikasi selagi menekuni kuliahnya di Cypress College. Handi juga mengikuti ESEA, salah satu platform kompetisi tertinggi untuk CS:GO di Amerika Utara.

 

4. Michael “Brolylegs” Begum

Pemuda 27 tahun ini menderita penyakit yang disebut dengan “Arthrogyroposis”. Kelainan ini menyebabkan gangguan pada fungsi otak yang mengirim sinyal kepada otot untuk tumbuh atau bergerak. Tapi keterbatasan fisik tidak menghentikan Brolylegs menjadi salah satu pemain Street Fighter terbaik dunia, menggunakan mulutnya.

Rajin tampil dalam gelaran turnamen fighting kelas dunia, event besar terakhirnya adalah EVO 2017. Brolylegs terkenal dengan ikatannya menggunakan Chun-Li, yang menurutnya memiliki gaya bertarung sesuai dengan keinginannya. Meski terkendala disabilitas, Brolylegs tak membiarkan orang mengasihaninya, karena ia hidup dengan prinsip untuk membuktikan bahwa keterbatasnnya bukan penghalang agar jadi lebih baik dari orang yang normal. Sejauh ini, Brolylegs sangat menikmati waktu bermainnya dengan mengalahkan orang-orang lain bahkan kompetitor serius dalam turnamen sekelas EVO.

Bila sedang tidak mengikuti turnamen, Brolylegs rutin melakukan streaming dan telah menghasilkan tulisan yang berjudul “My Life Beyond The Floor” yang menceritakan kisahnya sebagai pengidap Arthrogyroposis sejak lahir dan dinamika kehidupannya selama ini. Dan yang terpenting, kisah tentang usahanya menjadi gamer telah berbuah hasil untuk kebaikan hidupnya.

5. Ian “MistyStumpy” Alexander

Pemain League of Legends yang jalani peran top laner ini terbiasa bermain dengan satu tangan. Bukan karena keinginan untuk bergaya, melainkan MistyStumpy memang terlahir dengan satu tangan. Tangan kanannya normal layak orang biasa, namun lengan kirinya tumbuh tidak sempurna, meski bisa menggunakan “satu jari” yang menyembul keluar di lengan kirinya.

Tapi, sejatinya itu adalah bagian dari sikunya dan pergerakannya pun terbatas karena tulang rawan tersebut bukan jari sesungguhnya. Untuk berpindah memencet tombol, dia harus menggerakkan pinggulnya untuk mendorong gerakan jari di lengan kirinya.

Meski hanya bertangan satu, MistyStumpy bukan pemain sembarangan. Dia pernah bertengger di peringkat 12 Solo Queue di region Amerika Utara. Artinya apa? MistyStumpy terbiasa untuk bertanding bersama ataupun melawan pro player macam pemain-pemain dari tim Cloud9 ataupun FlyQuest, serta midlaner tangguh dari Team Solo Mid, Søren “Bjergsen” Bjerg.

Saat ini, dia tergabung dalam tim kampus Columbia Collague Cougars, dan bulan oktober kemarin mengikuti DreamHack Denver dalam turnamen League of Legends bertajuk American Video Game League Collegiate League of Legends Championship. Kemampuannya bermain game LOL sangat mencengangkan banyak pihak, terlebih karena keberadaan dua tangan saat bermain MOBA terkadang sangat dibutuhkan.

Sang ayah, John Alexander, dan ibunya, Valerie Alexander, mengatakan bahwa kemampuan Ian bukan sekedar bakat karena pada dasarnya ia adalah orang yang sangat termotivasi. Dia berhasrat besar untuk mendorong dirinya melakukan sesuatu yang lain dan lebih baik. Bila Ian tidak merasa tertantang, ia akan merasa bosan. Ian yang aslinya berasal dari Korea Selatan, diadopsi ketika berumur 6 bulan, dan sejak itu menjalani masa kanak-kanaknya di Blue Springs, Missouri. Meskipun sudah cacat sejak lahir, dia juga melawan kekurangannya di usia dini.

Ian tergolong sangat pintar dengan mampu memakai baju sendiri di umur 6 tahun, kemudian menggunakan busur dan panah serta belajar berenang. Beranjak ke usia sekolah, dia mampu bermain sepakbola dengan baik dan pada saat berumur 16 tahun mendaftar di Longview Community College ketika anak-anak seumurannya baru menyelesaikan kelas 1 SMA. Sang ayah menilai kemandirian yang Ian miliki merupakan sifat bawaan yang dia turunkan ke anaknya. John juga menderita cerebral palsy atau gangguan otak yang mempengaruhi gerak, keseimbangan, dan postur tubuh. Hal-hal yang bisa John lakukan, akan menjadi contoh bagi Ian bahwa ia juga bisa melakukannya.

Target selanjutnya dari Ian adalah mengikuti ajang seleksi NA LCS Scouting Ground 2018. Dia yakin dapatkan satu tempat di Scouting Ground tersebut. Namun untuk mewujudkannya, dia harus berusaha dan berlatih lebih keras lagi dari sebelumnya untuk bisa melebihi kemampuannya yang sekarang.