Esports

Polemik eSports di Asian Games 2018, Apa Kata Ketua Umum IESPA?

Michael
21/05/2018 13:19 WIB
Polemik eSports di Asian Games 2018, Apa Kata Ketua Umum IESPA?
Esports.ID

Seringkali langkah pertama menjadi hal terberat dalam melakukan sesuatu. Begitu pula masuknya eSports sebagai cabang yang akan diekshibisikan dalam Asian Games 2018. Beragam polemik mulai terjadi di kalangan komunitas, mulai dari pemilihan game yang dinilai kurang sesuai, transparansi penunjukkan sebuah komunitas, peraturan pertandingan, dan isu-isu lainnya.

Tim Esports.ID berhasil menghubungi Eddy Lim selaku Ketua Umum IESPA, organisasi yang memayungi eSports di tanah air.

Kisruh Pemilihan Game

Terpilihnya League of Legends mewakili MOBA PC tentu mengundang banyak kekecewaan dari kalangan komunitas DOTA 2 Indonesia. Hal ini dapat dimengerti, meski belum dapat memberikan prestasi maksimal di level internasional, tim-tim Indonesia acapkali memberikan kejutan dengan mengalahkan atau memberikan perlawanan ketat tim-tim kuat. Meski begitu, dilihat dari jumlah pemain dan penikmat di kawasan Asia, League of Legends jelas mengungguli DOTA 2.

Terpilihnya Pro Evolution Soccer pun menyisakan tanda tanya besar untuk komunitas FIFA. Sempat santer bakal terpilih sebagai cabang ekshibisi di Asian Games 2018, FIFA malah harus gigit jari ketika titel resmi yang diumumkan adalah PES. Meski dibalut kekecewaan, komunitas FIFA tetap akan mendukung wakil PES demi mendapatkan hasil maksimal di ASIAN GAMES 2018. Sekedar catatan, Indonesia memiliki catatan prestasi mengagumkan di kedua game tersebut. Batara Riasta & Lucky Ma’arif yang tergabung dalam Surabaya Gaming Team berhasil merebut peringkat runner-up dan ketiga dalam Grand Final PES WESG 2017. Sedangkan Ega Rahmaditya belum lama ini keluar sebagai juara di ajang FIFA PlayStation League Asia 2018.


Rivalitas namun tetap mendukung

Pemilihan game yang dipertandingkan di ASIAN GAMES sudah melalui perundingan dan keputusan bersama AESF, INASGOC, dan OCA. Mengenai tidak terpilihnya FIFA, alasan utamanya terletak di masalah lisensi,” jelas Eddy Lim, menanggapi rumor yang berkembang.

HSID Menggugat Prosedur Pendaftaran dan Transparansi

Sebagai salah satu komunitas HearthStone terbesar di Indonesia, HearthStone Indonesia (HSID) menggugat sistem pendaftaran dan proses seleksi yang kurang jelas. Farando Prakoso yang merupakan penggagas HSID mempertanyakan proses pemilihan dan 'survey form' yang digunakan oleh IESPA untuk menjaring peserta kualifikasi dari kompetisi berskala ASIAN GAMES.

Tetapi yang terjadi adalah iespa tidak melaksanakan asas transparansi yaitu memilih yang mereka sebut atlit tanpa melalui proses seleksi yang jelas. Dimana mereka menunjuk sebuah komunitas game yaitu blizzard gamer indonesia yang tidak mempunyai prestasi dan anggota yang berkualifakasi menjadi wakil Indonesia,” jelas Farando Prakoso dalam postingan akun pribadinya. 


Undangan Kualifikasi HearthStone dari IESPA

Hal ini langsung dibalas dengan tegas oleh Eddy Lim:

IESPA menunjuk Blizzard Gamers Indonesia karena telah bekerjasama sejak tahun 2016, dimulai saat kualifikasi HearthStone Indonesia untuk ajang IeSF 2016. Sebenarnya permasalahan ini lebih karena adanya rivalitas antara HSID dan Blizzgamer Indonesia. Jika IESPA mengundang EO lain seperti contohnya Yamisok tentu tidak akan panjang seperti ini. Selain itu, IESPA tidak membatasi peserta yang ingin mendaftar hanya dari Blizzgamer, tapi kita terbuka untuk seluruh pemain HearthStone di Indonesia, termasuk juga HSID,” jelas Eddy Lim. “Kenapa kita membutuhkan data-data lainnya seperti prestasi dan rank tertinggi sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan player yang layak masuk kualifikasi, tidak mungkin seluruh pendaftar kita approve dan ikut bertanding,” lanjutnya.

Kabar terkini, seperti dirilis Blizzard Gamers Indonesia, IESPA menambahkan slot peserta kualifikasi dari 16 menjadi 32. Apakah hal tersebut menandakan IESPA mendengarkan aspirasi player HearthStone di Indonesia?

Format Peraturan Yang Tidak Lazim

Satu lagi yang dipertanyakan adalah format peraturan yang digunakan dalam Asian Games 2018. Salah satu player berprestasi Indonesia, Novan 'nexok40' Kristianto mengeluhkan hal tersebut. Menurutnya, nanti di Asian Games, keberuntungan menjadi faktor penentu hasil pertandingan. Meski begitu dia mengakui peluang Indonesia untuk meraih hasil cukup terbuka lebar, bila mengacu pada hasil di WESG Asia Pasifik kala dirinya berhasil meraih tempat kedua (runner-up).

Peraturan sudah dari AESF langsung. Secara kesuluruhan format peraturan pertandingan internasional tidak berbeda jauh, hanya ada beberapa perubahan seperti sistem pertandingan BO1 atau BO3, juga single atau double elimination itu mutlak keputusan dari penyelenggara. Begitupun dengan penggunaan deck, tergantung pihak penyelenggara,” jelas Eddy menanggapi hal tersebut.

Sedangkan dua game lain yang juga dieksibisikan di Asian Games 2018 mendatang, StarCraft 2 dan Clash Royale masih adem ayem dan jauh dari polemik. Namun, bukan berarti kedua game tersebut hanya sebagai 'pemanis' di Asian Games 2018. Simak terus informasi-informasi terbaru seputar dunia eSports dan yang terpenting dukung terus wakil Indonesia di Asian Games 2018, tanpa memandang perbedaan game dan komunitas.

Maju terus dunia eSports Indonesia!