Gagal Jadi Pro Player? PB ESI Jamin Ada Profesi Lain di Industri Esports

Billy Rifki
24/11/2021 15:43 WIB
Gagal Jadi Pro Player? PB ESI Jamin Ada Profesi Lain di Industri Esports
media talk

Dalam media talk Piala Presiden Esports 2021 bertajuk "Membangun Jenjang Karir Atlet Esports & Prestasi Bangsa", turut hadir perwakilan dari KONI, TB Ade Lukman selaku Sekretaris Jenderal KONI dan Ashadi Ang selaku Ketua bidang Humas & Komunikasi dari PB ESI. Piala Presiden Esports sendiri merupakan turnamen berskala nasional yang kerap mengorbitkan talenta baru yang memincut minat tim esports besar tanah air.

Namun, selain sisi regenerasi, terkadang kita melupakan sisi akhir dari usia profesional para gamer tersebut. Banyak orang terutama anak muda yang mengorbankan waktu, pikiran sampai pendidikan untuk mengejar mimpi jadi atlet game profesional. Sayangnya, hanya segelintir saja yang bisa sukses sebagai gamer pro sementara lainnya hanya sekedar "meramaikan". Membahas kehidupan pemain setelah karir pro atau masa pensiun mereka jadi satu topik yang menarik bagi Pak Ade dan Pak Ashadi.

Yamisok Nobar

Meski saat ini PB ESI lebih fokus untuk membuat program regenerasi talenta esports seperti menyiapkan ekstra-kulikuler sampai turnamen nasional, Ashadi mengatakan kalau ekosistem esports punya cabang profesi yang luas. Bagi pemain profesional yang kurang beruntung, mereka bisa mengembangkan kemampuan mereka menjadi berbagai hal. Misalnya jadi caster, content creator, streamer dan lain-lain.

"Ketika kita membicarakan ekosistem esports ini terjadi banyak sekali. Termasuk ada game publisher, developer, ada media, ada komunitas, ada streaming, ada event organizer dan pecahan EO banyak sekali ada caster, ada stage manajer, project manager, broadcaster ini komponen banyak sekali. Nah, setelah atlet esports itu pensiun, mereka bisa masuk misalnya menjadi coach, jadi analis, bisa juga masuk jadi caster. Mereka bisa tetap berkarya di ekosistem esports ini sendiri dan itu bisa membawa penghasilan ketika mereka pensiun atau kurang berhasil jadi atlet esports" ucap Ashadi

Ia menambahkan, ketika seseorang sudah berhenti jadi gamer, mereka tetap bisa memberi kontribusi di dalam industri esports. Seperti Pak Ashadi yang mencontohkan dirinya sendiri yang kini berkecimpung sebagai bagian dari PB ESI dan juga CEO dari Unipin.

Sementara Pak Ade melanjutkan topik "life after athelete" tersebut dengan mengatakan kalau KONI mengharapkan para atlet esports ini tak cuma berprestasi dari segi kompetisi tapi juga akademik. Sehingga ketika mereka telah meninggalkan karir gamer profesional, mereka memiliki pengetahuan untuk mengembangkan usaha selain dari skill bermain game.

"Yang kami harapkan para atlet/gamer itu tidak hanya sukses di prestasi tapi juga sukses di akademik. Jadi sukses prestasi harus dibarengi dengan sukses akademiknya. Sehingga ketika mereka meneruskan karirnya di luar cabang olahraga yang digeluti, mereka sudah memiliki bekal untuk berkompetisi di bidang lainnya. Jadi sekali lagi himbauan kami para atlet juga harus sukses prestasi dan sukses akademik" ucap Pak Ade singkat.

Dari pernyataan kedua narasumber di atas bisa disimpulkan kalau berkarir di esports tidak hanya terbatas jadi gamer profesionalnya saja. Namun ada profesi lain yang tak kalah menjanjikan apabila kamu gagal jadi player profesional atau sudah memasuki tahapan pensiun dari pemain pro. Namun, untuk jadi sosok yang sukses, kamu harus memiliki pengetahuan dan pendidikan yang cukup sehingga tak kebingungan membangun usaha setelah pensiun.

Jadi, jangan lupa untuk menuntaskan pendidikan kalian sebelum mengejar mimpi jadi gamer profesional yah!