Dicap Negara Tertinggal, Seperti Apa Perkembangan Esports di Afrika?

Billy Rifki
22/12/2020 16:41 WIB
Dicap Negara Tertinggal, Seperti Apa Perkembangan Esports di Afrika?
edition.cnn.com

Apa yang ada di benak kalian saat memikirkan Afrika? Apakaha satwa-satwa liar? Konflik berkepanjangan? Negara-negara berekonomi kurang atau negaranya yang luas dengan berbagai suku budaya tradisional?

Tidak semua penduduk Afrika itu miskin, ketinggalan teknologi atau dilanda konflik loh. Bahkan, esports pun cukup populer di sana. Meski memang, gaungnya tak sebesar negara lain seperti pusat esports di Amerika Utara atau Eropa, bahkan tak seberapanya dari Asia Tenggara.

Yamisok Nobar

Namun tahukah kalian kalau ada pemain esports dari Afrika yang cukup berprestasi di kancah internasional. Salah satunya adalah Thabo "Ynvg Savage" Moloi, pemuda 18 tahun asal Afrika Selatan yang baru saja membuat sejarah. Dia menduduki peringkat 73 pemain terbaik dunia di FIFA dan jadi yang gamer esports Afrika pertama yang di sponsori oleh Red Bull.

Tak sampai di situ, Sylvia Gathoni alias Queen Arrow adalah atlet esports wanita pertama dari Kenya yang menekuni Tekken 7. Sylvia punya misi untuk menginspirasi wanita lain berani tampil dan mencari kesempatan di industri game.

"Kami tidak memiliki banyak pemain wanita di sini, jadi belum ada sistem pendukung dari orang yang bergender sama. Aku harus memastikan aku menjadi contoh bagi para wanita dan orang lain yang ingin masuk ke industri game," ujarnya dikutip dari edition.cnn.com.

Sebagai salah satu gamer wanita berprestasi, Sylvia juga sudah mendapatkan sponsorship dari brand global untuk menunjang karirnya.

Satu lagi sosok yang layak "disegani" dari benua Afrika adalah Brian "Beast" Diang'a. Gamer Mortal Kombat ini punya masa hidup sulit di mana ia kerap melalui hari tanpa makan dan minum. Namun, kesulitannya itu membuat ia terus berusaha untuk hidup lebih baik. Ia bersyukur karena hobinya bermain game sejak kecil telah membawa pria asal Kibera ini melewati masa suram.

Ada filosofi bagus yang Diang'a terapkan. "Hal yang bagus dari tinggal di Kibera adalah ketika kamu terpuruk, kamu tidak bisa lagi lebih parah dari itu. Satu-satunya jalan cuma bangkit ke tempat lebih tinggi. Jadi aku terus mendorong diriku dan mengatakan dalam hati kalau tak ada yang bisa membatasiku."

Sebelum sukses sebagai gamer, Diang'a tak mampu membeli konsol game. Ia berlatih genre fighting dari YouTube dan memperhatikan cara bermain orang lain. Sampai dia mengikuti turnamen lokal di tahun 2014 dan namanya melejit dari sana.

Kini, ia membangun rental-rental untuk komunitas. Membangun esports lokal dan industri game di sana seperti masa kecilnya dulu.

Esports di Afrika sendiri masih memiliki berbagai macam kendala. Mulai dari kurangnya dukungan dari publisher, internet yang lambat, kurangnya infrastruktur dan mahalnya barang-barang gaming impor. Banyak juga game-game esports populer seperti DOTA 2 dan League of Legends yang tak memiliki server Afrika, sehingga sulit bagi mereka untuk bersaing atau ikut turnamen internasional.

Nah Sobat Esports yang tinggal di Indonesia harus berkaca deh sama teman-teman gamer di Afrika. Mereka tetap berusaha meski punya banyak kesulitan. Semoga kita tidak cepat menyerah untuk mengejar cita-cita di esports ini yah!