Esports.ID

Banjir Prestasi, Astralis Tetap Tuai Kritikan Netizen

Billy
02/01/2019 14:31 WIB
Banjir Prestasi, Astralis Tetap Tuai Kritikan Netizen
gosugamer

Tahun 2018 seyogianya adalah masa-masa keemasan dari Astralis. Bagaimana tidak, mereka menduduki peringkat 1 HLTV rankings selama 64 minggu, menyabet beberapa piala bergengsi seperti Blast Pro Series Lisbon, ESL Pro League Season 8 Finals, FACEIT Major London 2018, IEM XIII: Chicago sampai diberkahi dengan titel Intel Grand Slam.

Namun, bagaikan kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, maka kilau keberhasilan mereka pun masih menyisakan noda mengganggu bagi sebagian fans yang merasa play style Astralis agak membosankan.

Beberapa orang menganalogikan Astralis dengan legenda tinju dunia saat ini, Floyd Mayweather Jr. Floyd adalah petarung yang konservatif dengan modal gerakan yang lincah dan daya tahan kuat. Tapi dia tak menggunakan kemampuannya untuk bermain eksplosif melainkan membiarkan dirinya dalam posisi bertahan. Menguras tenaga musuh yang terpancing untuk mendaratkan rentetan pukulan sampai tak disadari tenaganya habis tanpa memberi efek signifikan bagi Floyd.

Dengan cara seperti itu, Floyd selalu menang, 50 pertandingan 50 kemenangan 27 di antaranya menang KO, tapi setiap kemenangan jadi sebuah tontonan membosankan. Begitu pula Astralis menurut sebagian orang. Berdasarkan catatan, line up tim asal Denmark ini berhasil memenangkan 200 dari 254 map yang mereka jalani sejak 23 April 2018. Jadi hampir luput dari ingatan kapan Astralis pernah kehilangan satu map penuh dalam satu turnamen.

Astralis pernah menunjukkan dominasi serupa khususnya di awal enam bulan tahun 2017 lalu. Seakan mereka mengulang kembali konsistensi yang sama dan berujung pada dominasi total di scene profesional CS:GO 2018. Bukan cuma Astralis yang punya rekor dan prestasi, tahun-tahun sebelumnya terkenal dengan era SK Gaming (2016), Fnatic (2014), atau rekor ikonik NiP di tahun 2013 ketika membukan 87 kemenangan tanpa kalah sebelum dihentikan Virtus.pro.

Namun tim-tim pendahulunya memiliki kesan yang kuat di hati penggemar karena gaya permainan yang sangat menghibur. Bahkan banyak yang membandingkan kekuatan Astralis mungkin tidak akan bertahan bila menghadapi SK Gaming atau Fnatic di masa jayanya. Tapi itulah kompetisi, permainan cantik terkadang tak mendatangkan hasil, dan selagi strategi ini bekerja baik bagi Astralis, maka sah saja tetap bermain seperti ini sampai tim lawan punya cara untuk menangkal mereka.

Apakah Astralis 2019 akan tetap membosankan?