Esports.ID

Arena of Valor, Mobile MOBA yang Tersukses atau 'Terkaya'?

Billy
22/11/2017 14:04 WIB
Arena of Valor, Mobile MOBA yang Tersukses atau 'Terkaya'?

Sejak kemunculannya, Arena of Valor terus dipergunjingkan oleh banyak orang, entah itu fans gamernya atau para pemerhati yang juga menyimpan rasa sedikit skeptis terhadap keberadaan game mobile bergenre MOBA ini. Terutama setelah maraknya beredar meme atau sindiran halus lainnya berkenaan video komersil dan tagline game dengan hadiah luar biasa besarnya, 7 Miliar!

Hal ini seakan membumbui aroma persaingan dan perebutan fanbase dengan pecinta game serupa, Mobile Legends. Keduanya notabene sedang bersaing untuk menjadi MOBA Mobile tersukses di dunia. Nah, melalui artikel ini kita akan mengupas secara singkat apa saja yang bisa membuat AoV jadi game tersukses? Apakah karena besaran hadiah yang disediakan? Keuntungan besar yang diraihnya? Ataukah dari segi prestasi, apa yang sudah dicapainya?

Dulunya diberi titel 'Honor of Kings' atau 'Strike of Kings' sebagai nama rilis internationalnya, AoV merupakan game besutan Tencent Games yang juga merupakan pemilik saham mayoritas di Riot Games (pengembang League of Legends). Pertama kali rilis di Cina, AoV langsung meledak di pasaran dan mengantongi  $883 juta dolar dari hasil penjualan satu minggu saja sejak diluncurkan tanggal 26 November 2015 (menurut CGN Games, platform analisis dan data game di Cina).

Kesuksesan AoV disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah proses penyederhanaan dalam kaitan waktu yang dibutuhkan oleh para gamer peminat MOBA namun enggan bermain dalam durasi waktu lama. Tencent Games juga pintar mengambil peluang dan menjadikan pangsa pasar mobile di Cina yang potensial sebagai target utamanya.

Faktanya memang hanya ada sedikit gamer yang bermain game konsol di Cina. Karena sejak tahun 2000, Cina telah melarang peredaran konsol gaming karena khawatir akan merusak generasi muda dan kebijakan ini untuk melindungi masa depan anak muda di Cina. Ironis, karena dalam setahun game online malah merebak luas di kalangan pemudanya, sehingga  pelarangan dengan dalih proteksi bisa dibilang tidak akurat.

Ban pada konsol gaming baru diangkat pada tahun 2015, namun hal ini belum menggairahkan masyarakat Cina untuk mempunyai konsol game. Mereka malah beralih pada jenis permainan yang mudah diakses dan tidak menghabiskan banyak waktu. Disinilah, AOV bisa menjadi penguasa pasar mobile game di Cina.

Ada 695 juta pengguna mobile di Cina, dimana 366 juta penggunanya adalah untuk keperluan game. Dan upaya menggaet komunitas gamer lainnya, misalnya pengguna konsol di Cina, Tencent kembali melakukan gebrakan, yakni merilis versi AoV untuk pengguna Nintendo Switch. Pada akhirnya, kehadiran AoV mampu menyumbang peningkatan penjualan Nintendo Switch hingga kisaran angka 7%.

Disebut-sebut sebagai game mobile paling menguntungkan di tahun 2017, dengan meraup USD$ 140 juta dalam sebulan, AoV menginvasi gaya hidup pemuda di Cina dengan lebih dari 50 juta download hingga saat ini. Beberapa kasus juga menyebutkan bahwa AoV menimbulkan efek ketagihan dan 'candu' baru bagi anak-anak di Cina, sehingga pemerintah memutuskan harus ada regulasi khusus bagi anak di bawah umur yang bermain AoV. Tencent turut mendukung kebijakan pemerintah ini dan memutuskan pemberlakuan batas waktu sebagai tindak pencegahan.

Meskipun di luar negeri sudah ada MOBA seperti Vainglory, tapi dari segi jumlah yang menonton tayangan streaming game, AoV masih penguasanya. Keputusan untuk merambah pasar internasional juga menjadi titik penting untuk makin mengangkat popularitas AOV. Kontribusi dari streamer berpengaruh besar di sini.

Figur seperti Hai Shi, mantan pemain LoL dan Michael 'Imatqpie' Santana turut berperan memperkenalkan AOV di barat. Meskipun tidak sepopuler ketika rilis di negeri asalnya, AOV atau Strike of Kings menembus 1 juta download dan mendapat 4 bintang di App Store dan Google Play. Ramon Pan, salah seorang pemain AOV sejak kemunculannya mengatakan bahwa AoV tak ubahnya MOBA biasa, namun kemudian dia memainkannya, dan orang-orang mulai membicarakan tentang game ini, pada akhirnya dia keterusan bermain.

Dari sisi kompetitif, AOV juga merajai turnamen mobile games. King Pro League di tahun 2016 disaksikan oleh 70 juta viewer dengan total hadiah mencapai USD$250.000 ( sekitar 3 Milyar Rupiah). Pada bulan November, Arena of Valor International Championship: Asia 2017 di helat di Seoul. Diikuti oleh tim terbaik dari Korea Selatan, Taiwan, Vietnam dan Indonesia saling berebut total hadiah USD$500.000 ( sekitar 6,7 Miliar rupiah). Terakhir, ESL  selaku penyelenggara event yang berpengalaman menggelar kompetisi untuk game eSports besar seperti CS:GO dan Dota 2, ikut terjun menyelenggarakan Non-Pro tournament Arena of Valor dengan total hadiah mencapai USD$100.000 ( sekitar 1,3 Milyar Rupiah)

MOBA kok RAGU? Di AOV, perjuangan jadi yang terbaik emang harganya mahal guys.